Peraturan Menteri/Badan ini mulai berlaku pada tanggal
diundangkan.
Agar
setiap
orang
mengetahuinya,
memerintahkan
pengundangan
Peraturan
Menteri/Badan
ini
dengan
penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 4 September 2025
MENTERI LINGKUNGAN HIDUP/KEPALA
BADAN PENGENDALIAN LINGKUNGAN
HIDUP REPUBLIK INDONESIA,
Œ
HANIF FAISOL NUROFIQ
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal Д
DIREKTUR JENDERAL
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
KEMENTERIAN HUKUM REPUBLIK INDONESIA,
Ѽ
DHAHANA PUTRA
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2025 NOMOR Ж
LAMPIRAN I
PERATURAN
MENTERI
LINGKUNGAN
HIDUP/BADAN
PENGENDALIAN
LINGKUNGAN
HIDUP REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 11 TAHUN 2025
TENTANG
BAKU MUTU AIR LIMBAH DOMESTIK DAN STANDAR
TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR LIMBAH DOMESTIK
BAKU MUTU AIR LIMBAH UNTUK AIR LIMBAH DOMESTIK YANG
MELAKUKAN PENGOLAHAN AIR LIMBAH DOMESTIK SECARA TERSENDIRI
A.
BAKU MUTU AIR LIMBAH UNTUK KEGIATAN PEMBUANGAN AIR LIMBAH
DOMESTIK.
1.
AIR LIMBAH KAKUS YANG DIOLAH PADA INSTALASI PENGOLAHAN
LUMPUR TINJA (IPLT) TERPADU DAN DIBUANG KE MEDIA AIR
Keterangan:
*)
= diukur langsung pada titik penaatan.
2.
AIR LIMBAH NONKAKUS, ATAU GABUNGAN AIR LIMBAH KAKUS
DENGAN AIR LIMBAH NONKAKUS DAN DIBUANG KE MEDIA AIR
PARAMETER
SATUAN
KADAR PALING TINGGI
Klasifikasi
(berdasarkan volume Air
Limbah Domestik yang
dihasilkan dalam m3/hari)
x > 50
3 < x ≤ 50
< 3
Tingkat Keasaman
(pH*)
–
6 – 9
6 – 9
6 – 9
Kebutuhan Oksigen
Biokimiawi (BOD)
mg/l
Kebutuhan Oksigen
Kimiawi (COD)
mg/l
Padatan
Tersuspensi Total
(TSS)
mg/l
Amoniak (NH3-N)
mg/l
Deterjen Total***
mg/l
Minyak & Lemak
mg/l
PARAMETER
SATUAN
KADAR PALING
TINGGI
Tingkat Keasaman (pH*))
–
6 – 9
Kebutuhan Oksigen
Biokimiawi (BOD)
mg/l
Kebutuhan Oksigen Kimiawi
(COD)
mg/l
Padatan Tersuspensi Total
(TSS)
mg/l
Amoniak (NH3-N)
mg/l
Fecal coliform
MPN/100ml
1.000
PARAMETER
SATUAN
KADAR PALING TINGGI
Klasifikasi
(berdasarkan volume Air
Limbah Domestik yang
dihasilkan dalam m3/hari)
x > 50
3 < x ≤ 50
< 3
Sisa khlorin (Cl2) *)
mg/l
1
1
Salmonela
-
Negatif
Negatif
Shigela
-
Negatif
Negatif
Vibrio cholera
-
Negatif
Negatif
Streptococus
-
Negatif
Negatif
Fecal coliform
MPN/100ml
1.000
1.000
1.000
Keterangan:
x
= volume Air Limbah Domestik yang dihasilkan.
*)
= diukur langsung pada titik penaatan.
) = khusus Pengolahan Air Limbah Domestik pada Fasilitas
Pelayanan Kesehatan yang tidak mengolah limbah bahan
berbahaya dan beracun dan telah melakukan standar
operasional prosedur pengelolaan Air Limbah sesuai peraturan
perundang-undangan.
*) = sebagai surfactant anionic (MBAS), khusus untuk kegiatan
yang melakukan kegiatan pencucian atau laundry.
3.
AIR LIMBAH NONKAKUS, ATAU GABUNGAN AIR LIMBAH KAKUS
DENGAN AIR LIMBAH NONKAKUS DAN DIBUANG KE DRAINASE
ATAU IRIGASI
NO
PARAMETER
SATUAN
KADAR
TERTINGGI
1.
Tingkat Keasaman (pH*))
-
6 – 9
2.
Kebutuhan Oksigen
Biokimiawi (BOD)
mg/l
3.
Kebutuhan Oksigen Kimiawi
(COD)
mg/l
4.
Padatan Tersuspensi Total
(TSS)
mg/l
5.
Fecal coliform
MPN/100ml
6.
Residual Klorin**)
mg/l
Keterangan:
*) = diukur langsung pada titik penaatan.
**) = bila pengolahan air limbah domestik menggunakan khlorinasi.
Nilai Baku Mutu Air Limbah untuk kegiatan pembuangan Air Limbah
Domestik ke drainase atau irigasi dari Usaha dan/atau Kegiatan
fasilitas pelayanan Kesehatan sesuai ketentuan sebagai berikut:
a.
pengolahan Air Limbah tidak terintegrasi dengan pengolahan
limbah bahan berbahaya dan beracun; dan
b.
melakukan standar operasional prosedur pengelolaan limbah
berbahaya dan beracun sesuai peraturan perundang-undangan.
NO
PARAMETER
SATUAN
KADAR
TERTINGGI
1.
Tingkat Keasaman (pH*))
-
6 – 9
2.
Kebutuhan Oksigen
Biokimiawi (BOD)
mg/l
3.
Kebutuhan Oksigen Kimiawi
(COD)
mg/l
4.
Padatan Tersuspensi Total
(TSS)
mg/l
5.
Residual Klorin**)
mg/l
6.
Fecal coliform
MPN/100ml
7.
Salmonela
-
Negatif
8.
Shigela
-
Negatif
9.
Vibrio cholera
-
Negatif
10.
Streptococus
-
Negatif
Keterangan:
*) = diukur langsung pada titik penaatan.
**) =
bila
pengolahan
Air
Limbah
Domestik
menggunakan
khlorinasi.
B.
BAKU MUTU AIR LIMBAH DOMESTIK UNTUK PEMANFAATAN AIR
LIMBAH.
Air Limbah Domestik dapat dimanfaatkan untuk kegiatan sebagai berikut:
1.
PENYIRAMAN DAN/ATAU PENCUCIAN
Nilai Baku Mutu Air Limbah untuk pemanfaatan Air Limbah Domestik
berupa penyiraman dan/atau pencucian, yang bukan merupakan
Usaha dan/atau Kegiatan fasilitas pelayanan kesehatan sebagai
berikut:
NO
PARAMETER
SATUAN
KADAR
TERTINGGI
1.
Tingkat Keasaman (pH*))
-
6 – 9
2.
Kebutuhan Oksigen
Biokimiawi (BOD)
mg/l
3.
Kebutuhan Oksigen Kimiawi
(COD)
mg/l
4.
Padatan Tersuspensi Total
(TSS)
mg/l
5.
Fecal coliform
MPN/100ml
6.
Residual Klorin**)
mg/l
Keterangan:
*) = diukur langsung pada titik penaatan.
**) = bila pengolahan Air Limbah Domestik menggunakan khlorinasi.
2.
PENYIRAMAN DAN/ATAU PENCUCIAN DARI USAHA DAN/ATAU
KEGIATAN PELAYANAN KESEHATAN
Nilai Baku Mutu Air Limbah untuk pemanfaatan Air Limbah Domestik
berupa penyiraman dan/atau pencucian dari Usaha dan/atau
Kegiatan fasilitas pelayanan kesehatan sebagai berikut:
NO
PARAMETER
SATUAN
KADAR
TERTINGGI
1.
Tingkat Keasaman (pH*))
-
6 – 9
2.
Kebutuhan Oksigen
Biokimiawi (BOD)
mg/l
3.
Kebutuhan Oksigen Kimiawi
(COD)
mg/l
4.
Padatan Tersuspensi Total
(TSS)
mg/l
5.
Residual Klorin**)
mg/l
6.
Fecal coliform
MPN/100ml
7.
Salmonela
-
Negatif
8.
Shigela
-
Negatif
9.
Vibrio cholera
-
Negatif
10.
Streptococus
-
Negatif
Keterangan:
*) = diukur langsung pada titik penaatan.
**) = bila pengolahan Air Limbah Domestik menggunakan khlorinasi.
Nilai Baku Mutu Air Limbah ini digunakan bagi Usaha dan/atau
Kegiatan fasilitas pelayanan kesehatan sesuai ketentuan sebagai
berikut:
a.
pengolahan Air Limbah tidak terintegrasi dengan pengolahan
limbah bahan berbahaya dan beracun; dan
b.
melakukan standar operasional prosedur pengelolaan limbah
berbahaya dan beracun sesuai peraturan perundang-undangan.
3.
RESAPAN DI ATAS FORMASI (PERMUKAAN), RESAPAN DI DALAM
FORMASI TERTENTU DAN MENAHAN INTRUSI AIR LAUT
Nilai Baku Mutu Air Limbah bagi Usaha dan/atau Kegiatan yang
melakukan pemanfaatan Air Limbah Domestik ke formasi tertentu
untuk resapan di atas formasi (permukaan), resapan di dalam formasi
tertentu dan imbuhan air tanah sebagai berikut:
NO
PARAMETER
SATUAN
KADAR
TERTINGGI
1.
Tingkat Keasaman (pH*))
-
6 – 9
2.
Kebutuhan Oksigen
Biokimiawi (BOD)
mg/l
3.
Kebutuhan Oksigen Kimiawi
(COD)
mg/l
4.
Padatan Tersuspensi Total
(TSS)
mg/l
5.
Fecal coliform
MPN/100ml
6.
Nitrat (sebagai N)
mg/l
7.
Salmonela)
-
Negatif
8.
Shigela)
-
Negatif
9.
Vibrio cholera)
-
Negatif
10.
Streptococus)
-
Negatif
Keterangan:
*) = diukur langsung pada titik penaatan.
**) = khusus Usaha dan/atau Kegiatan fasilitas pelayanan kesehatan
sesuai ketentuan sebagai berikut:
a.
pengolahan
Air
Limbah
tidak
terintegrasi
dengan
pengolahan limbah bahan berbahaya dan beracun; dan
b.
melakukan standar operasional prosedur pengelolaan
limbah
berbahaya
dan
beracun
sesuai
peraturan
perundang-undangan.
MENTERI LINGKUNGAN HIDUP/KEPALA
BADAN PENGENDALIAN LINGKUNGAN
HIDUP REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
HANIF FAISOL NUROFIQ
LAMPIRAN II
PERATURAN
MENTERI
LINGKUNGAN
HIDUP/BADAN PENGENDALIAN LINGKUNGAN
HIDUP REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 11 TAHUN 2025
TENTANG
BAKU MUTU AIR LIMBAH DOMESTIK DAN
STANDAR
TEKNOLOGI
PENGOLAHAN
AIR
LIMBAH DOMESTIK
PENGHITUNGAN NILAI BAKU MUTU AIR LIMBAH
UNTUK AIR LIMBAH DOMESTIK YANG MELAKUKAN
PENGOLAHAN AIR LIMBAH DOMESTIK SECARA TERINTEGRASI
Perhitungan Baku Mutu Air Limbah pada unit pengolahan Air Limbah
terintegrasi dilakukan untuk mendapatkan angka mengenai:
1.
debit Air Limbah paling tinggi; dan
2.
kadar Air limbah gabungan paling tinggi.
Perhitungan dilakukan dengan menggunakan rumusan sebagai berikut:
A.
debit Air Limbah paling tinggi
debit Air Limbah paling tinggi adalah jumlah debit tertinggi Air Limbah dari
masing-masing Usaha dan/atau Kegiatan yang mengolah Air Limbah
domestik dengan kegiatan lainnya, seperti yang dinyatakan dalam
persamaan berikut:
Keterangan
Qmax
:
debit Air Limbah paling tinggi, dalam satuan
m3/waktu.
Qi
:
debit Air Limbah paling tinggi dari kegiatan i, dalam
satuan m3/waktu.
Qn
:
debit Air Limbah paling tinggi dari kegiatan n, dalam
satuan m3/waktu.
B.
kadar Air Limbah gabungan paling tinggi.
1.
untuk parameter yang sama
jika terdapat parameter yang sama dari beberapa jenis Usaha
dan/atau Kegiatan, maka penentuan kadar paling tinggi pada
parameter yang sama tersebut ditentukan dengan menggunakan
metoda neraca massa dengan perhitungan sebagai berikut:
Keterangan
Cmax : kadar paling tinggi setiap parameter, dalam satuan mg/l.
Ci
: kadar paling tinggi setiap parameter dalam Baku Mutu Air
Limbah untuk kegiatan i, dalam satuan mg/l.
Qi
: debit paling tinggi Air Limbah kegiatan i, dalam satuan
m3/waktu.
Cn
: kadar paling tinggi setiap parameter dalam Baku Mutu Air
Limbah untuk kegiatan n, dalam satuan mg/l.
……. persamaan (1)
……. persamaan (2)
Qn
: debit paling tinggi Air Limbah kegiatan n, dalam satuan
m3/waktu.
2.
untuk parameter yang berbeda.
penentuan kadar berdasarkan nilai Baku Mutu Air Limbah dari
seluruh parameter yang berbeda tersebut.
Contoh perhitungan kadar Air Limbah gabungan paling tinggi pada
industri A, sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.
PARAMETER
AIR LIMBAH
INDUSTRI A
AIR LIMBAH
DOMESTIK
GABUNGAN
Tingkat
Keasaman (pH)
6-9
6-9
6-9
Kebutuhan
Oksigen
Biokimiawi
(BOD)
76,7
Kebutuhan
Oksigen
Kimiawi (COD)
Padatan
Tersuspensi
Total (TSS)
176,7
Minyak &
Lemak
18,3
Amoniak (NH3-
N)
-
Deterjen Total
-
Sisa khlorin
(Cl2) *)
-
Nitrogen Total
(sebagai N)
-
Fecal coliform
-
1.000
1.000
Debit (m3/hari)
Keterangan:
Perhitungan untuk parameter yang sama.
Perhitungan untuk parameter yang berbeda.
Contoh perhitungan BOD
Diketahui:
1. Konsentrasi BOD dari industri A (Ci)= 100 mg/l.
2. Konsentrasi BOD dari kegiatan domestik (Cn) = 30 mg/l.
3. Debit dari industri A (Qi) = 200 m3/hari.
4. Debit dari kegiatan domestik (Qn) = 100 m3/hari.
Maka nilai Baku Mutu Air Limbah untuk BOD terintegrasi:
= ((100*200)+(30*100))
(200+100)
= 20.000+3.000
= 76,7 mg/l
Contoh perhitungan COD
Diketahui:
1. Konsentrasi COD dari industri A (Ci)= 350 mg/l.
2. Konsentrasi COD dari kegiatan domestik (Cn) = 100 mg/l.
3. Debit dari industri A (Qi) = 200 m3/hari.
4. Debit dari kegiatan domestik (Qn) = 100 m3/hari.
Maka nilai Baku Mutu Air Limbah untuk COD terintegrasi:
= ((350*200)+(75*100))
(200+100)
= 70.000+7.500
= 258 mg/l
Contoh perhitungan TSS
Diketahui:
1. Konsentrasi TSS dari industri A (Ci)= 250 mg/l.
2. Konsentrasi TSS dari kegiatan domestik (Cn) = 30 mg/l.
3. Debit dari industri A (Qi) = 200 m3/hari.
4. Debit dari kegiatan domestik (Qn) = 100 m3/hari.
Maka nilai Baku Mutu Air Limbah untuk TSS terintegrasi:
= ((250*200)+(30*100))
(200+100)
= 50.000+3.000
= 176,7 mg/l
Contoh perhitungan minyak & lemak
Diketahui:
1. Konsentrasi minyak & lemak dari industri A (Ci)= 25 mg/l.
2. Konsentrasi minyak & lemak dari kegiatan domestik (Cn) = 5 mg/l.
3. Debit dari industri A (Qi) = 200 m3/hari.
4. Debit dari kegiatan domestik (Qn) = 100 m3/hari.
Maka nilai Baku Mutu Air Limbah untuk minyak & lemak terintegrasi:
= ((25*200)+(5*100))
(200+100)
= 5.000+500
= 18,3 mg/l
Perhitungan ini tidak termasuk untuk pengolahan Air Limbah terpadu
atau komunal kawasan industri. Baku Mutu Air Limbah untuk
kawasan industri sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-
undangan.
MENTERI LINGKUNGAN HIDUP/KEPALA
BADAN PENGENDALIAN LINGKUNGAN
HIDUP REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
HANIF FAISOL NUROFIQ
LAMPIRAN III
PERATURAN
MENTERI
LINGKUNGAN
HIDUP/BADAN PENGENDALIAN LINGKUNGAN
HIDUP REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 11 TAHUN 2025
TENTANG
BAKU MUTU AIR LIMBAH DOMESTIK DAN
STANDAR
TEKNOLOGI
PENGOLAHAN
AIR
LIMBAH DOMESTIK
STANDAR TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR LIMBAH
UNTUK AIR LIMBAH DOMESTIK
A.
PEMBUANGAN AIR LIMBAH DOMESTIK
Untuk unit proses pengolahan Air Limbah Domestik yang akan dilakukan
pembuangan ditentukan berdasarkan volume Air Limbah Domestik yang
dihasilkan, sebagai berikut:
1.
Lebih kecil atau sama dengan 3 m3 (tiga meter kubik).
Untuk Usaha dan/atau Kegiatan yang menghasilkan Air Limbah
sebesar ≤ 3 m3 (lebih kecil atau sama dengan tiga meter kubik) per
hari, penanggung jawab Usaha dan/atau Kegiatan menggunakan
Standar Teknologi Pengolahan Air Limbah dengan proses sebagai
berikut:
Keterangan :
----- : pilihan
*
: Unit pemisah minyak dan lemak digunakan jika ada potensi
air limbah yang mengandung minyak dan lemak
Dalam
melakukan
pengolahan
Air
Limbah
Domestik
yang
dihasilkannya,
penanggung
jawab
Usaha
dan/atau
Kegiatan
melakukan:
a.
penggunaan paket tangki septik (package) siap pakai atau unit
pengolah Air Limbah yang tersertifikasi Standar Nasional
Indonesia (SNI) sesuai dengan debit Air Limbah yang dihasilkan;
atau
b.
pembangunan tangki septik atau unit pengolah Air Limbah,
berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI).
Pembangunan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b
harus kedap air dan efluennya tidak boleh diresapkan.
Untuk membangun tangki septik atau unit pengolah Air Limbah
tersebut di atas, penanggung jawab Usaha dan/atau Kegiatan terlebih
dahulu perlu menghitung:
1)
volume Air Limbah Domestik yang akan diolah per hari, antara
lain berdasarkan jumlah karyawan dan/atau pengunjung; dan
2)
volume tangki septik atau unit pengolah Air Limbah berdasarkan
waktu tinggal selama minimum 3 (tiga) hari dan debit Air Limbah
Domestik.
Contoh perhitungan:
Volume tangki septik atau unit pengolah Air Limbah ditentukan
dengan cara membandingkan panjang, lebar, dan kedalaman tangki
septik unit pengolah Air Limbah sesuai dengan ketentuan teknis,
misalnya berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) 2398:2017
sub bab 4.2.1.2, yaitu:
1.
perbandingan panjang:lebar adalah 2:1 sampai dengan 3:1
2.
kedalaman (t) tangki septik adalah:
a. untuk volume tangki septik ≤ 3 m3, t = 1,6 m,
b. untuk volume tangki septik > 3 m3 dan ≤ 6 m3, t = 1,8 m, dan
c. untuk volume tangki septik > 6 m3, t = 2 m.
Perhitungan Air Limbah Domestik dari suatu Usaha dan/atau
Kegiatan:
o
Jumlah karyawan= 10 orang
o
Timbulan air limbah= 100 liter/orang/hari
o
Jumlah pengunjung = 100 orang/hari
o
Timbulan air limbah= 2,7 liter/orang/hari.
o
Waktu tinggal = 3 hari
Keterangan:
Dalam hal terdapat beberapa kegiatan dalam suatu area, misalnya ada
kantor, tempat ibadah, mess, perumahan, kantin, dan lain-lain, maka
debit Air Limbah akan dihitung berdasarkan jumlah orang yang
beraktivitas di lokasi tersebut, tidak mengakumulasikan Air Limbah
dari masing-masing fasilitas/unit kerja penghasil air limbah
Total Air Limbah Domestik = Air Limbah Karyawan + Air Limbah
Pengunjung
= (10 x 100) + (100 x 2,7)
= 1.000 + 270
= 1.270 liter/hari
= 1,27 m3/hari
Kapasitas Tangki Septik
= Total air limbah x waktu tinggal
= 1,27 x 3
= 3,81 m3
Kedalaman (t) Tangki Septik, berdasarkan kriteria desain adalah 1,8
meter.
Dipilih rasio panjang:lebar adalah 2:1, maka:
V
= P x L x T
3,81
= 2L x L x 1,8
2L2
= 2,117
L2
= 2,117:2
= 1,0585
L
=
L
= 1,03 meter
P
= 2L
= 2 x 1,03
= 2,06 meter.
2.
3 m3 (tiga meter kubik) sampai kurang dari atau sama dengan 50 m3 (lima
puluh meter kubik) per hari
Untuk Usaha dan/atau Kegiatan yang menghasilkan Air Limbah lebih
besar dari 3m3 (tiga meter kubik) sampai kurang dari atau sama dengan 50
m3 (lima puluh meter kubik) per hari, penanggung jawab Usaha dan/atau
Kegiatan menggunakan Standar Teknologi Pengolahan Air Limbah dengan
proses sebagai berikut:
a.
Alternatif 1
Keterangan:
----- = pilihan
1)
Unit pemisah minyak dan lemak digunakan jika ada potensi Air
Limbah yang mengandung minyak dan lemak.
2)
Unit anaerobik digunakan jika ada potensi Air Limbah memiliki
kadar COD tinggi, deterjen atau MBAS, atau material inhibitor
organik lainnya.
3)
Unit anoxic dapat ditempatkan dengan konfigurasi sesuai
karakteristik Air Limbah.
4)
Unit pemisah lumpur biologi tidak berlaku untuk sistem:
a)
Sequencing Batch Reactor (karena pengendapan lumpur
biologi terjadi di dalam unit aerobik);
b)
Membrane Bio Reactor (karena pemisahan sludge dari air
limbah terolah sudah dilakukan dengan membran).
5)
Unit penampung lumpur diperlukan bila biosludge tidak akan
diolah/didegradasi lebih lanjut di Unit Anaerobik
6)
Bahan oksidator tidak digunakan bila proses desinfeksi yang
dipilih adalah sistem Ultraviolet.
7)
Unit filtrasi digunakan jika ada potensi air limbah mengandung
Total Suspended Solid (> 30 mg/l), keruh dan berbau.
Kriteria perancangan bagi pengolahan Air Limbah Domestik untuk
pembuangan sebagai berikut:
No. Unit Proses
Kriteria
Satuan
Referensi
Grease Trap
Kecepatan Aliran
0,021 -
0,035
m/menit
Metcalf &
Eddy, 2003
HRT
min 30
menit
Said & Yudo,
Equalization Tank
Waktu Tinggal
dilihat dari
beban
puncak
dibandingka
n dengan
beban rata-
rata
jam
melihat dari
pola shift (1
shift = 8 jam)
Pre-sedimentasi
konvensional
Surface Loading
1 - 2
m3/m2/
jam
Metcalf &
Eddy, 2003
Kedalaman Tipe
Konvensional
2
meter
Qasim,
1985.
HRT
min 2
jam
Pre-sedimentasi
dengan lamella
Hazen
velocity/lamella
velocity
4-8
m3/m2/
jam
Metcalf &
Eddy, 2003
Kedalaman tangki
1
meter
Qasim,
1985.
HRT
min 30
menit
No. Unit Proses
Kriteria
Satuan
Referensi
Anaerobic
Suspended growth
jam
Organic loading
rate
Anaerobic lagoon
1,0 – 2,0
kg.COD/
m3.hari
Metcalf &
Eddy, 2003
Anaerobic digester
1,6 – 4,8
kg.COD/
m3.hari
Metcalf &
Eddy, 2003;
Davis, 2010
Septic tank
Mengacu SNI
Kedap Air
Badan
Standardisas
i Nasional,
2017.
Baffled reactor
< 3
kg.COD/
m3.hari
Kementrian
Pekerjaan
Umum dan
Perumahan
Rakyat, 2018
Anaerobic Attach
growth
Anaerobic filter
0,5 - 2,5
kg.COD/
m3.hari
Metcalf &
Eddy, 2003
Aerobic Suspended growth:
Rasio F/M untuk:
0,04 – 0,15
kg.BOD/
kg
MLVSS.
hari
Metcalf &
Eddy, 2003
Activated sludge
(Extended Aeration)
HRT
16 -24
jam
von Sperling,
Sequencing batch
reactor (SBR), HRT
6 – 8
jam per
siklus
von Sperling
&
Chernicharo,
Membrane
Bioreactor (MBR),
flux
16 - 33
liter/m2.
jam
Judd &
Judd, 2006
Aerobic Attach
Growth:
MBBR BOD loading
7,5 - 25
gBOD/
m2.hari
Water
Environment
Federation,
MBBR Nitrogen
loading
0,45 - 1
g NH3-
N/m2.
hari
Water
Environment
Federation,
Persentase volume
media terhadap
volume aktif bak
aerasi
% media
terhadap
volume
reaktor
van Handeel,
A.C. & van
der Lubbe,
J.G.M., 2012
No. Unit Proses
Kriteria
Satuan
Referensi
Biofilter (fixed
Media)
0,5 - 4
kg.BOD/
m3-
media/
hari
Said & Yudo,
Luas permukaan
spesifik dari media
min 150
m2/m3
Secondary Clarifier
konvensional
Surface Overflow
Rate (SOR)
Rata-rata 0,7
– 1,4
Beban
Puncak: ≤
2,0 – 3,0
m/jam
Metcalf &
Eddy, Inc.,
AECOM,
2014;
WEF, 2014
Solids Loading Rate
(SLR)
Rata-rata: 50
- 150
Beban
Puncak: ≤
kg/m2/
hari
Metcalf &
Eddy, Inc.,
AECOM,
2014;
WEF, 2014
Waktu Tinggal
(HRT)
2,0 – 4,0
(pada aliran
rata-rata)
jam
Metcalf &
Eddy, Inc.,
AECOM,
2014;
WEF, 2014
Weir Overflow Rate
(WOR)
120 (IPAL
kecil) 250
(IPAL besar)
m3/m/
hari
Metcalf &
Eddy, Inc.,
AECOM,
2014;
WEF, 2014
Side Water Depth
(SWD)
3,5 – 6,0
(Kurang dari
3,5
diperbolehka
n untuk
kapasitas
IPAL kecil)
meter
Metcalf &
Eddy, Inc.,
AECOM,
2014;
WEF, 2014
Kemiringan dasar
tangki (Floor Slope)
Circular: ~8%
(1:12)
Rectangular:
1 - 2%
% atau
rasio
Metcalf &
Eddy, Inc.,
AECOM,
2014;
WEF, 2014
Kedalaman Tangki
2
meter
Qasim,
1985.
Secondary Clarifier
dengan Lamella
Surface Overflow
Rate (SOR)
Kecepatan dihitung
berdasarkan
Projected Surface
Area dari Lamella
Plate atau Tube
Settler
0,5 – 1,5
m3/m2/
jam
Metcalf &
Eddy, Inc.,
AECOM,
2014;
WEF, 2014
Solids Loading Rate
(SLR)
50 - 150
(Rata-rata)
kgTSS/
m2/hari
Metcalf &
Eddy, Inc.,
No. Unit Proses
Kriteria
Satuan
Referensi
sampai
dengan 250
(Beban
Puncak)
AECOM,
2014;
WEF, 2014
Kemiringan
Lamella Plate/Tube
Settler
55 - 60 (60
paling
umum)
derajat
Metcalf &
Eddy, Inc.,
AECOM,
2014;
WEF, 2014
Panjang Lamella
Plate/Tube Settler
0,6 – 1,2
meter
Metcalf &
Eddy, Inc.,
AECOM,
2014;
WEF, 2014
Jarak antara
Lamella Plate/Tube
Spacing
Tipikal: ~ 50,
lebih besar
dari 50
diperbolehka
n sepanjang
memenuhi
kriteria SOR
milimeter Metcalf &
Eddy, Inc.,
AECOM,
2014;
WEF, 2014
Kedalaman Zona
Sludge/Sludge Zone
Depth
1,0 – 1,5
(atau lebih)
meter
Metcalf &
Eddy, Inc.,
AECOM,
2014;
WEF, 2014
Filtration
Kecepatan Aliran
Media Filtrasi
Lambat
0,1 - 0,3
m/jam
Metcalf &
Eddy, 2003
Kecepatan Aliran
Media Filtrasi
Cepat
7 - 10
m/jam
Metcalf &
Eddy, 2003
Kecepatan Aliran
Media Filtrasi
bertekanan
15 - 20
m/jam
Metcalf &
Eddy, 2003
Referensi:
1)
Badan Standarisasi Nasional, 2017, SNI 2398:2017 Tata Cara
Perencanaan Tangki Septik dengan Pengolahan Lanjutan (Sumur
Resapan, Bidang Resapan, Up Flow Filter, Kolam Sanita), Jakarta:
Badang Standarisasi Nasional.
2)
Davis, Mackenzie L., 2010, Water and Wastewater Engineering -
Design
Principles
and
Practice,
Michigan:
McGraw-Hill
Companies, Inc.
3)
Judd, S. & Judd, C., 2006, The MBR Book: Principles and
Applications of Membrane Bioreactors in Water and Wastewater
Treatment, Oxford: Elsevier.
4)
Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, 2018,
Pedoman Perencanaan Teknik Terinci Sistem Pengelolaan Air
Limbah Domestik Terpusat SPALD-T: Buku B, Jakarta:
Kementrian PUPR.
5)
Metcalf & Eddy Inc., 2003, Wastewater Engineering Treatment
and Reuse Fourth Edition, Boston: McGraw-Hill Companies, Inc.
6)
Metcalf & Eddy, Inc., AECOM. (2014). Wastewater Engineering:
Treatment and Resource Recovery (5th ed.). McGraw-Hill
Education.
7)
Qasim, S.R., 1985, Wastewater Treatment Plants: Planning,
Design, and Operation, Second Edition, Routledge: Abingdon-on-
Thame.
8)
Said, N.I., dan Yudo, S., 2006, Rancang Bangun Instalasi
Pengolahan Air Limbah Rumah Potong Hewan (RPH) Ayam
Dengan Proses Biofilter, JAI 2(1), 83-91.
9)
van Handeel, A.C. & van der Lubbe, J.G.M., 2012, Handbook of
Biological Wastewater Treatment: Design and Optimisation of
Activated Sludge Systems, London: IWA Publishing.
10) von Sperling, M., 2007, Activated Sludge and Aerobic Biofilm
Reactor, New Delhi: IWA Publishing.
11) von Sperling, M. & Chernicharo, C.A. de Lemos, 2005, Biological
Wastewater Treatment in Warm Climate Regions, Padstow: IWA
Publishing.
12) Voutchkov, N., 2017, Fundamentals of Clarifier Performance
Monitoring and Control, SunCam Online Education Course.
13) Water Environment Foundation, 2011, Biofilm Reactors: WEF
Manual of Practice no. 35, Virginia: WEF Press.
14) WEF (Water Environment Federation), 2014, Manual of Practice No.
8: Design of Municipal Wastewater Treatment Plants (5th ed).
b.
Alternatif 2
Kriteria perancangan teknologi pengolahan Air Limbah untuk pembuangan Air Limbah dengan menggunakan Stabilization
Pond
Unit
proses
Target
Removal
VLR (Lv)
Ls (Organic
Surface Loading
Rate)
HRT (t)
Kedalaman
Rasio Geometri
(Panjang/Lebar)
Referensi
kg
BOD/m3.hari
kg
BOD/hektar.hari
hari
m
Pilihan rasio
yang
disarankan
Anaerobic
Pond
(>25oC)
BOD (50-70%)
0,35
3 - 6
3 - 5
1 - 3
Marcos von
Sperling,
Facultative
Pond
BOD (45-70%)
240 - 350
15 - 45
1,5 - 2
2 - 4
Maturation
Pond
Fecal coliform
removal 3-6
log unit (99,9
- 99,9999%)
NA
3-30
0,8-1
Keterangan
-------
: pilihan
VLR (Lv) : olumetric Organic Loading Rate
HRT (t)
: Hydraulic Retention Time
Ls
: Organic Surface Loading Rate
Referensi:
Marcos von Sperling, 2007, Waste Stabilization Ponds. Biological
Wastewater Treatment Series Vol. 03, IWA Publishing, London.
c.
Alternatif 3
Keterangan
-------: pilihan
1)
Anaerobic/Septic tank untuk Air Limbah Domestik gabungan
(kakus dan nonkakus) bila nonkakus saja, cukup menggunakan
unit pengendapan saja.
2)
Constructed Wetland dengan konstruksi kedap air.
3)
Disinfeksi untuk kapasitas di atas 3m3 (tiga meter kubik) per
hari.
4)
Alternatif recycling untuk proses denitrifikasi.
Kriteria perancangan pengolahan Air Limbah Domestik dengan
Constructed Wetland adalah sebagai berikut:
No.
Design
Parameter
Unit
Jenis Constructed Wetland
Referensi
Free
Water
Surface
(FWS)
Sub-Surface Flow
(SSF)
Horizontal
Vertical
Detention Time
hari
5 - 14
2-7
Ronald. W.
Crites, 1994
Max. BOD
Loading rate
g/m2/hari
7,5
4 - 6
Ronald. W.
Crites, 1994
Cross-sectional
organic
loading rate
g
BOD5/m2.hari
250a)
Günter
Langergraber,
et al, 2020;
Langergraber,
et al, 2017
Kedalaman air
atau substrate
M
0,1 - 0,5
0,1 - 1,0
Ronald. W.
Crites, 1994
HLR
(mm/hari)
7 - 60
2-30
40 - 80
Ronald. W.
Crites, 1994
Kebutuhan
area
hektar/m3/hari
0,0020 -
0,014
0,001 -
0,007
Ronald. W.
Crites, 1994
Aspect Ratio -
Panjang/Lebar
2:1
sampai
10:1
0,25:1
sampai
5:1
Ronald. W.
Crites, 1994
Bed Bottom
Slope
%
0,5 - 3
0,5 - 3
0,5 - 3
Ronald. W.
Crites, 1994
Keterangan:
a)
:
nilai ini diusulkan oleh Wallace pada tahun 2014 untuk turun sampai
dengan 100 BOD5/m2.hari
Referensi:
1)
Günter Langergraber, et al, 2017, Biological Wastewater Treatment
Series, Vol. 7: Treatment Wetlands, IWA Publishing.
2)
Günter Langergraber, et al, 2020, Wetland Technology: Practical
Information on the Design and Application of Treatment Wetlands.
Scientific and Technical Report No. 27, IWA Publishing.
3)
Ronald. W. Crites, 1994, Design Criteria and Practice for
Constructed Wetlands. Water Science and Technology, Vol. 29, No.
4, Pergamon.
B.
PEMANFAATAN AIR LIMBAH DOMESTIK UNTUK PENYIRAMAN DAN/ATAU
PENCUCIAN
Untuk unit proses Pengolahan Air Limbah Domestik yang akan dilakukan
pemanfaatan Air Limbah untuk kegiatan penyiraman atau pencucian
ditentukan berdasarkan volume Air Limbah Domestik yang dihasilkan,
yaitu lebih kecil atau sama dengan 3m3 (tiga meter kubik) per hari. Standar
Teknologi Pengolahan Air Limbah Domestik dapat dilakukan melalui proses
sebagai berikut:
Keterangan:
-------: pilihan
1.
Unit pemisah minyak dan lemak digunakan jika ada potensi Air
Limbah yang mengandung minyak dan lemak.
2.
Unit anaerob digunakan jika akan menurunkan kadar COD dan
Detergen di awal proses sebelum unit aerobic
3.
Unit anoxic dapat berupa unit tersendiri atau digabung dengan unit
anaerobic atau aerobic (dengan menghentikan pasokan udara)
4.
Unit pemisah lumpur biologi tidak berlaku untuk sistem:
a.
Sequencing Batch Reactor (karena pengendapan lumpur biologi
terjadi di dalam unit aerobik);
b.
Membrane Bio Reactor (karena pemisahan sludge dari Air Limbah
terolah sudah dilakukan dengan membran).
5.
Unit penampung lumpur diperlukan bila biosludge tidak akan
diolah/didegradasi lebih lanjut di unit anaerobik
6.
Bahan oksidator tidak digunakan bila proses desinfeksi yang dipilih
adalah sistem ultraviolet.
7.
Unit filtrasi digunakan jika ada potensi Air Limbah mengandung Total
Suspended Solid (> 30 mg/l), keruh dan berbau.
Kriteria perancangan teknologi pengolahan Air Limbah Domestik untuk
pemanfaatan Air Limbah (penyiraman atau pencucian) sebagai berikut:
No.
Unit Proses
Kriteria
Satuan
Referensi
Grease Trap
Kecepatan Aliran
0,021-0,035
m/menit
Metcalf &
Eddy, 2003;
HRT
menit
Said & Yudo,
Equalization Tank
Waktu Tinggal
min 8
jam
melihat dari
pola shift (1
shift = 8 jam)
Pre-sedimentasi
konvensional
Surface Loading
1 - 2
m3/m2/jam
Metcalf &
Eddy, 2003;
Kedalaman Tipe
Konvensional
2
m
Qasim, 1985.
HRT
min 2
jam
Pre-sedimentasi
dengan lamella
Hazen
velocity/lamella
velocity
1 - 2
m3/m2/jam
Metcalf &
Eddy, 2003;
Kedalaman tangki
1
m
Qasim, 1985.
HRT
min 45
Anaerobic Suspended
growth
jam
Organic loading rate
Baffled reactor
<3
kg.BOD/m3
media.hari
Kementrian
Pekerjaan
Umum dan
Perumahan
Rakyat, 2018
Anaerobic Attach
growth
No.
Unit Proses
Kriteria
Satuan
Referensi
Anaerobic filter
0,25 - 0,75
kg.BOD/m3
media.hari
Chernicharo,
Aerobic Suspended
growth
Rasio F/M untuk:
0,07 – 0,15
kg.BOD/kg
MLVSS.hari
von Sperling &
Chernicharo,
Activated sludge
(Extended Aeration),
HRT
18 - 36
jam
Kementrian
Pekerjaan
Umum dan
Perumahan
Rakyat, 2018
Sequencing batch
reactor (SBR), HRT
6 – 8
Jam per
siklus
von Sperling &
Chernicharo,
Membrane bioreactor
(MBR), flux
16 - 33
liter/m2.jam
Judd & Judd,
Aerobic Attach
growth
MBBR
MBBR 2 tahap:
MBBR BOD loading
tahap 1
MBBR BOD loading
tahap 2
7,5 - 25
gBOD/m2.ha
ri
Water
Environment
Federation,
MBBR Nitrogen
loading
0,45 - 1
g NH3-
N/m2.hari
Water
Environment
Federation,
Persentase volume
media
70%
% media
terhadap
volume
reaktor
van Handeel,
A.C. & van der
Lubbe, J.G.M.,
Fixed bed (Biofilter)
Biofilter
1,5 - 6
kgBOD/m3
media.hari
Water
Environment
Federation,
Luas permukaan
spesifik dari media
Min 150
m2/m3
Secondary Clarifier
konvensional
Surface Overflow
Rate (SOR)
Rata-rata
0,7 – 1,4
Beban
Puncak: ≤
2,0 – 3,0
m/jam
Metcalf &
Eddy, Inc.,
AECOM, 2014;
WEF, 2014
Solids Loading Rate
(SLR)
Rata-rata:
50 - 150
Beban
Puncak: ≤
kg/m2/hari
Metcalf &
Eddy, Inc.,
AECOM, 2014;
WEF, 2014
Waktu Tinggal (HRT)
2,0 – 4,0
jam
Metcalf &
No.
Unit Proses
Kriteria
Satuan
Referensi
(pada aliran
rata-rata)
Eddy, Inc.,
AECOM, 2014;
WEF, 2014
Weir Overflow Rate
(WOR)
120 (IPAL
kecil) 250
(IPAL besar)
m3/m/hari
Metcalf &
Eddy, Inc.,
AECOM, 2014;
WEF, 2014
Side Water Depth
(SWD)
3,5 – 6,0
(Kurang
dari 3,5
diperbolehk
an untuk
kapasitas
IPAL kecil)
meter
Metcalf &
Eddy, Inc.,
AECOM, 2014;
WEF, 2014
Floor Slope
Circular:
~8% (1:12)
Rectangular:
1 - 2%
% atau rasio
Metcalf &
Eddy, Inc.,
AECOM, 2014;
WEF, 2014
Kedalaman Tangki
2
meter
Qasim, 1985.
Secondary Clarifier
dengan Lamella
Surface Overflow
Rate (SOR)
Kecepatan dihitung
berdasarkan
Projected Surface
Area dari Lamella
Plate atau Tube
Settler
0,5 – 1,5
m3/m2/jam
Metcalf &
Eddy, Inc.,
AECOM, 2014;
WEF, 2014
Solids Loading Rate
(SLR)
50 - 150
(Rata-rata)
sampai
dengan 250
(Beban
Puncak)
kgTSS/m2/h
ari
Metcalf &
Eddy, Inc.,
AECOM, 2014;
WEF, 2014
Kemiringan Lamella
Plate/Tube Settler
55 - 60 (60
paling
umum)
derajat
Metcalf &
Eddy, Inc.,
AECOM, 2014;
WEF, 2014
Panjang Lamella
Plate/Tube Settler
0,6 – 1,2
meter
Metcalf &
Eddy, Inc.,
AECOM, 2014;
WEF, 2014
Jarak antara Lamella
Plate/Tube Spacing
Tipikal: ~
50, lebih
besar dari
diperbolehk
an
sepanjang
memenuhi
kriteria SOR
milimeter
Metcalf &
Eddy, Inc.,
AECOM, 2014;
WEF, 2014
Kedalaman Zona
Sludge/Sludge Zone
1,0 – 1,5
(atau lebih)
meter
Metcalf &
Eddy, Inc.,
No.
Unit Proses
Kriteria
Satuan
Referensi
Depth
AECOM, 2014;
WEF, 2014
Kedalaman tangki
1
Qasim, 1985.
Filtration
Kecepatan Aliran
0,1 - 0,3
m/jam
Metcalf &
Eddy, 2003
Media Filter
Kecepatan Aliran
Media Filtrasi Cepat
7 - 10
m/jam
Metcalf &
Eddy, 2003
Kecepatan Aliran
Media Filtrasi
bertekanan
15 - 20
m/jam
Metcalf &
Eddy, 2003
Disinfeksi
Waktu Kontak
min 30
menit
Vigneswaran, S
& Visvanathan,
C., 1995
Referensi:
1.
Chernicharo, C.A. de Lemos, 2007, Anaerobic Reactors, New Delhi: IWA
Publishing.
2.
Judd, S. & Judd, C., 2006, The MBR Book: Principles and applications
of membrane bioreactors in water and wastewater treatment, Oxford:
Elsevier.
3.
Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, 2018, Pedoman
Perencanaan Teknik Terinci Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik
Terpusat SPALD-T: Buku B, Jakarta: Kementrian PUPR
4.
Metcalf & Eddy Inc., 2003, Wastewater Engineering Treatment and
Reuse Fourth Edition, Boston: McGraw-Hill Companies, Inc.
5.
Metcalf & Eddy, Inc., AECOM. (2014). Wastewater Engineering:
Treatment and Resource Recovery (5th ed.). McGraw-Hill Education.
6.
Qasim, S.R., 1985, Wastewater Treatment Plants: Planning, Design,
and Operation, Second Edition, Routledge: Abingdon-on-Thame
7.
Said, N.I., dan Yudo, S., 2006, Rancang Bangun Instalasi Pengolahan
Air Limbah Rumah Potong Hewan (RPH) Ayam Dengan Proses Biofilter,
JAI 2(1), 83-91.
8.
van Handeel, A.C. & van der Lubbe, J.G.M., 2012, Handbook of
Biological Wastewater Treatment: Design and Optimisation of Activated
Sludge Systems, London: IWA Publishing
9.
Vigneswaran, S. & Visvanathan, C., 1995, Water Treatment Processes:
Simple Options, Florida: CRC Press.
10. von Sperling, M. & Chernicharo, C.A. de Lemos, 2005, Biological
Wastewater Treatment in Warm Climate Regions, Padstow: IWA
Publishing.
11. Water Environment Foundation, 2011, Biofilm Reactors: WEF Manual of
Practice no. 35, Virginia: WEF Press.
12. WEF (Water Environment Federation), 2014, Manual of Practice No. 8:
Design of Municipal Wastewater Treatment Plants (5th ed).
MENTERI LINGKUNGAN HIDUP/KEPALA
BADAN PENGENDALIAN LINGKUNGAN
HIDUP REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
HANIF FAISOL NUROFIQ