Langsung ke konten

Peraturan Badan Nomor 4 Tahun 2021 tentang SKEMA PENILAIAN KESESUAIAN TERHADAP STANDAR NASIONAL INDONESIA SEKTOR PERTANIAN, PERKEBUNAN, PETERNAKAN DAN PERIKANAN

PERATURAN_BSN No. 4 Tahun 2021 berlaku

Pasal 1

Dalam Peraturan Badan ini yang dimaksud dengan: 1. Badan Standardisasi Nasional yang selanjutnya disingkat BSN adalah lembaga pemerintah nonkementerian yang bertugas dan bertanggung jawab di bidang Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian. 2. Komite Akreditasi Nasional yang selanjutnya disingkat KAN adalah lembaga nonstruktural yang bertugas dan bertanggung jawab di bidang akreditasi Lembaga Penilaian Kesesuaian. 3. Standar Nasional INDONESIA yang selanjutnya disingkat SNI adalah Standar yang ditetapkan oleh BSN dan berlaku di wilayah Negara Kesatuan Republik INDONESIA. 4. Lembaga Penilaian Kesesuaian yang selanjutnya disingkat LPK adalah lembaga yang melakukan kegiatan penilaian kesesuaian. 5. Lembaga Sertifikasi Produk yang selanjutnya disebut LSPro adalah LPK yang merupakan pihak ketiga, baik lembaga pemerintah atau nonpemerintah yang mengoperasikan skema Sertifikasi produk untuk memberikan jaminan tertulis bahwa suatu Barang, Proses atau Jasa telah memenuhi Standar dan/atau regulasi. 6. Sertifikasi adalah rangkaian kegiatan Penilaian Kesesuaian yang berkaitan dengan pemberian jaminan tertulis bahwa Barang, Jasa, Sistem, Proses, atau Personal telah memenuhi Standar dan/atau regulasi. 7. Skema Penilaian Kesesuaian adalah aturan, prosedur, dan manajemen yang berlaku untuk melaksanakan penilaian kesesuaian terhadap Barang, Proses, dan/atau Jasa, dengan persyaratan acuan tertentu. 8. Pelaku Usaha adalah setiap orang perseorangan atau badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah Negara Kesatuan Republik INDONESIA, balk sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian, menyelenggarakan kegiatan usaha dalam berbagai bidang ekonomi.

Pasal 2

Skema Penilaian Kesesuaian terhadap SNI sektor Pertanian, Perkebunan, Peternakan dan Perikanan meliputi Skema Penilaian Kesesuaian untuk produk: a. pupuk sp-36 plus zn; b. pupuk kalium sulfat; c. dolomit; d. indonesian good aquaculture practices (IndoGAP) bagian 1: cara pembenihan ikan yang baik (CPIB) dan cara budidaya ikan yang baik (CBIB); e. indonesian good aquaculture practices (IndoGAP) bagian 2: cara pembuatan pakan ikan yang baik (CPPIB); f. bahan baku pakan ternak; g. pakan ternak; h. bibit ternak; i. semen ternak; j. embrio sapi; k. minyak kemiri; l. minyak sawit; m. biji kakao; n. biji kopi; o. tembakau; p. benih tanaman pangan; q. beras; r. jagung; s. kedelai; t. pupuk kalsium nitrat; u. pupuk kiseret; v. pupuk borat; w. pupuk urea amonium fosfat; x. pupuk amonium klorida; y. pupuk monoamonium fosfat; z. pupuk tripel superfosfat plus-zn; aa. pupuk diamonium fosfat; ab. pupuk cair sisa proses asam amino; ac. pupuk super fosfat tunggal; ad. gipsum buatan; ae. kapur untuk pertanian; af. pupuk organik padat; ag. lada; ah. cassia INDONESIA; dan ai. lombok kering.

Pasal 3

(1) Kepala BSN MENETAPKAN Skema Penilaian Kesesuaian terhadap SNI sektor Pertanian, Perkebunan, Peternakan dan Perikanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2. (2) Skema Penilaian Kesesuaian terhadap SNI Sektor Pertanian, Perkebunan, Peternakan dan Perikanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan untuk pelaksanaan Sertifikasi produk. (3) Ketentuan mengenai Skema Penilaian Kesesuian produk: a. pupuk SP-36 Plus Zn tercantum dalam Lampiran I; b. pupuk kalium sulfat tercantum dalam Lampiran II; c. dolomit tercantum dalam Lampiran III; d. indonesian good aquaculture practices (IndoGAP) bagian 1: cara pembenihan ikan yang baik (CPIB) dan cara budidaya ikan yang baik (CBIB) tercantum dalam Lampiran IV; e. indonesian good aquaculture practices (IndoGAP) bagian 2: cara pembuatan pakan ikan yang baik (CPPIB) tercantum dalam Lampiran V; f. bahan baku pakan ternak tercantum dalam Lampiran VI; g. pakan ternak tercantum dalam Lampiran VII; h. bibit ternak tercantum dalam Lampiran VIII; i. semen ternak tercantum dalam Lampiran IX; j. embrio sapi tercantum dalam Lampiran X; k. minyak kemiri tercantum dalam Lampiran XI; l. minyak sawit tercantum dalam Lampiran XII; m. biji kakao tercantum dalam Lampiran XIII; n. biji kopi tercantum dalam Lampiran XIV; o. tembakau tercantum dalam Lampiran XV; p. benih tanaman pangan tercantum dalam Lampiran XVI; q. beras tercantum dalam Lampiran XVII; r. jagung tercantum dalam Lampiran XVIII; s. kedelai tercantum dalam Lampiran XIX; t. pupuk kalsium nitrat tercantum dalam Lampiran XX; u. pupuk kiseret tercantum dalam Lampiran XXI; v. pupuk borat tercantum dalam Lampiran XXII; w. pupuk urea amonium fosfat tercantum dalam Lampiran XXIII; x. pupuk amonium klorida tercantum dalam Lampiran XXIV; y. pupuk monoamonium fosfat tercantum dalam Lampiran XXV; z. pupuk tripel superfosfat plus-Zn tercantum dalam Lampiran XXVI; aa. pupuk diamonium fosfat tercantum dalam Lampiran XXVII; ab. pupuk cair sisa proses asam amino tercantum dalam Lampiran XXVIII; ac. pupuk super fosfat tunggal tercantum dalam Lampiran XXIX; ad. gipsum buatan tercantum dalam Lampiran XXX; ae. kapur untuk pertanian tercantum dalam Lampiran XXXI; af. pupuk organik padat tercantum dalam Lampiran XXXII; ag. lada tercantum dalam Lampiran XXXIII; ah. cassia INDONESIA tercantum dalam Lampiran XXXIV; dan ai. lombok kering tercantum dalam Lampiran XXXV, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Badan ini.

Pasal 4

Pada saat Peraturan Badan ini mulai berlaku: a. sertifikat yang telah diterbitkan sebelum berlakunya Peraturan Badan ini, tetap berlaku sampai dengan jangka waktu sertifikat berakhir; dan b. permohonan sertifikasi yang telah diproses sebelum berlakunya Peraturan Badan ini, tetap dilaksanakan berdasarkan skema yang diacu oleh LSPro.

Pasal 5

Pada saat Peraturan Badan ini mulai berlaku, Peraturan Badan Standardisasi Nasional Nomor 2 Tahun 2020 tentang Skema Penilaian Kesesuaian terhadap Standar Nasional INDONESIA Sektor Pertanian, Perkebunan, Peternakan, dan Perikanan (Berita Negara Republik INDONESIA Tahun 2020 Nomor 1292), dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 6

Peraturan Badan ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Badan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik INDONESIA. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 31 Mei 2021 KEPALA BADAN STANDARDISASI NASIONAL REPUBLIK INDONESIA, ttd. KUKUH S. ACHMAD Diundangkan di Jakarta pada tanggal 3 Juni 2021 DIREKTUR JENDERAL PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA, ttd. WIDODO EKATJAHJANA