Pedoman Teknis Pembangunan Kebun Induk Lada sebagaimana tercantum
dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan
Menteri ini.
Peraturan Menteri Nomor 10-permentan-ot-140-1-2013 Tahun 2013 tentang PEDOMAN TEKNIS PEMBANGUNAN KEBUN INDUK LADA
Pasal 1
Pasal 2
Pedoman Teknis Pembangunan Kebun Induk Lada sebagaimana dimaksud
dalam
Pasal 1 sebagai acuan
dalam
pembinaan dan pengembangan
pembangunan kebun induk dan kebun entres lada.
Pasal 3
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar
setiap
orang
mengetahuinya,
memerintahkan
pengundangan
Peraturan
Menteri
ini
dengan
penempatannya
dalam
Berita
Negara
Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 21 Januari 2013
MENTERI PERTANIAN
REPUBLIK INDONESIA,
SUSWONO
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 23 Januari 2013
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
AMIR SYAMSUDIN
www.djpp.depkumham.go.id
2013, No.132
LAMPIRAN
PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 10/PERMENTAN/OT.140/1/2013OT.140/112
TENTANG
PEDOMAN TEKNIS PEMBANGUNAN KEBUN INDUK LADA
PEDOMAN TEKNIS PEMBANGUNAN KEBUN INDUK LADA
I.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Lada (Piper nigrum Linn) merupakan tanaman rempah yang tumbuh
memanjat
dan
termasuk
family
Piperaceae.
Lada
merupakan
tanaman rempah
yang cukup penting baik di tinjau dari segi
perannya dalam menyumbang devisa negara, penyedia lapangan
kerja, bahan baku industri dalam negeri dan kegunaannya yang
sangat khas yang tidak dapat diganti dengan rempah lain.
Indonesia saat ini berada pada posisi nomor 4 penghasil lada,
setelah Brazil, India dan Vietnam. Dulu Indonesia menjadi eksportir
terbesar, tetapi sekarang produksinya turun karena banyak pohon
yang ditebang dan diganti dengan kelapa sawit dan karet. Padahal
permintaannya masih tinggi yaitu lada putih ke Amerika Serikat dan
Lada Hitam ke Eropa (Media Perkebunan Edisi 105 Agustus 2012).
Namun
demikian,
beberapa
tahun
terakhir
ini
kontribusi
lada
Indonesia
di
pasar
dunia
semakin
menurun.
Kontribusi
lada
Indonesia pada kurun waktu 2005-2010 berkisar antara 20% - 30%
dari kebutuhan dunia. Vietnam sebagai pendatang baru dalam dunia
perladaan, merupakan pesaing Indonesia dalam beberapa tahun
terakhir. Jika pada tahun 2001 Indonesia menjadi pengekspor lada
utama (nomor satu) di dunia dengan total ekspor sebesar 63.938 ton
jauh diatas Vietnam yang saat itu hanya mengekspor 36.465 ton.
Namun sejak tahun 2002 Vietnam menduduki peringkat pertama
dengan
volume
ekspor
lada
sebanyak
56.506
ton
sedangkan
Indonesia menempati urutan kedua dengan volume ekspor sebesar
53.291 ton. Rendahnya produksi lada di Indonesia karena petani
masih
menggunakan
benih
asalan
dan
belum
melaksanakan
teknologi budidaya yang dianjurkan.
Langkah awal dalam peningkatan produksi dan kualitas lada yaitu
dengan penyediaan benih unggul disetiap sentra produksi melalui
pembangunan kebun induk. Pembangunan kebun induk lada yang
sesuai standar dan ditetapkan dengan keputusan oleh instansi yang
www.djpp.depkumham.go.id
2013, No.132
berwenang diharapkan akan mampu menghasilkan benih unggul
bermutu yang tersedia setiap saat secara berkesinambungan.
B. Maksud dan Tujuan
Maksud penyusunan Pedoman ini yaitu sebagai acuan bagi para
stakeholder (petani, pengusaha dan instansi) dalam pelaksanaan
pembangunan kebun induk lada, dengan tujuan agar dapat terwujud
kebun-kebun induk lada yang memenuhi standar yang benar dan
mampu
menyediakan
benih
unggul
bermutu
setiap
saat
dan
berkesinambungan.
C.Ruang Lingkup
1. Persyaratan Teknis Pembangunan Kebun Induk Lada.
2. Pelaksanaan Pembangunan Kebun Induk Lada.
3. Prosedur Penetapan Kebun Induk Lada.
D.Pengertian
Dalam Pedoman ini yang dimaksud dengan:
1. Benih adalah tanaman atau bagiannya yang digunakan untuk
memperbanyak dan/atau mengembangkan tanaman.
2. Varietas
adalah
sekelompok
tanaman
dari
suatu
jenis
atau
spesies
yang
ditandai
oleh
bentuk
tanaman,
pertumbuhan
tanaman, daun, bunga, buah, biji, dan ekspresi karakteristik
genotipe atau kombinasi genotipe yang dapat membedakan dari
jenis atau spesies yang sama oleh sekurang-kurangnya satu sifat
yang
menentukan
dan
apabila
diperbanyak
tidak
mengalami
perubahan.
3. Setek adalah bagian dari tanaman (pucuk) yang berfungsi sebagai
batang atas, yang diambil dari bagian batang tanaman yang
memiliki mata tunas atau titik tumbuh.
4. Sulur Panjat adalah cabang yang kedudukannya sama dengan
batang primer karena sama-sama memanjat ke atas dan memiliki
akar
lekat
untuk
melekatkan
diri
ditajar,
sehingga
sering
dinamakan cabang panjat, di setiap buku muncul sehelai daun
yang menghadap cabang plagiotrop dan akar-akar lekat.
5. Sulur Gantung adalah cabang gantung sebenarnya sama dengan
cabang ortotrop, yaitu tumbuh ke atas, tetapi akar lekatnya tidak
mendapat
tempat
untuk
melekatkan
diri
di
tajar,
sehingga
posisinya menggantung.
www.djpp.depkumham.go.id
2013, No.132
II. PERSYARATAN TEKNIS PEMBANGUNAN KEBUN INDUK LADA
Pembangunan
kebun
Induk
lada
harus
mengacu
pada
Standar
Nasional
Indonesia
(SNI)
Nomor:
SNI.
01-7155-2006
Tahun
sebagaimana terlampir (Format-1). Untuk memenuhi standar tersebut
maka pembangunan kebun induk lada harus memenuhi persyaratan
sebagai berikut:
A. Tanah, Iklim dan Lokasi
Tanah, iklim dan lokasi Kebun Induk Lada yang ideal antara lain:
1. Tanah
a.
tinggi tempat 0-500 m dpl.
b.
jenis tanah Ultisol, Inceptisol, Alfisol dan Andisol bertekstur
pasir dan gembur.
c.
pH tanah : 5-6,5.
d.
kandungan unsur hara N=0,27%, P2O5=0,29%, K2O=0,40%,
MgO=0,18%, CaO=0,50% dan kandungan bahan organik > 2
%.
e.
tidak
tergenang
air
bila
musim
hujan
dan
tidak
pecah
dimusim kemarau.
f.
lapisan olah tanah sekitar 1-2,5 m.
g.
topografi dengan kemiringan <15%.
2. Iklim
a.
temperatur optimal 230C - 30 oC dengan kelembaban udara
70% - 90 %.
b.
curah hujan 2.000-3.000 mm/tahun dengan hari hujan 110 –
170 hari dalam setahun.
c.
bulan kering 2-3 bulan/tahun.
3. Lokasi
Syarat-syarat lokasi sebagai berikut:
a.
lokasi harus berada pada tempat yang terbuka, drainase
tanah baik dan tidak becek.
b.
bukan
termasuk
daerah
endemik
hama
dan
penyakit
tanaman lada.
c.
dekat dengan jalan agar mudah melakukan pengangkutan
dan pengawasan.
d.
status tanah jelas, bukan tanah sengketa.
B.Varietas Anjuran
www.djpp.depkumham.go.id
2013, No.132
Bahan tanaman (varietas) lada yang dianjurkan yaitu berasal dari
benih bina yang telah dilepas oleh Menteri Pertanian.
Tabel 1. 7 varietas lada yang telah dilepas
No
Varietas
SK Menteri
Natar I
SK Nomor 274/Kpts/KB.230/4/1988
tanggal 21 April 1988
Natar 2
SK Nomor. 275/Kpts/KB.230/4/1988
tanggal 21 April 1988
Petaling I
SK Nomor 275/Kpts/KB.230/4/1988
tanggal 21 April 1988
Petaling 2
SK Nomor 275/Kpts/KB.230/4/1988
tanggal 21 April 1988
Lampung daun
kecil
SK Nomor 465/Kpts/TP.240/7/ 1993
tanggal 02 Juli 1993
Bengkayang
SK Nomor 466/Kpts/TP.240/7/1993
tanggal 02 Juli 1993
Chunuk
SK Nomor 467/Kpts/TP.240/7/1993
tanggal 02 Juli 1993
Deskripsi ketujuh varietas lada tersebut dapat dilihat pada Format-2
sampai dengan Format-8.
III. PELAKSANAAN PEMBANGUNAN KEBUN INDUK LADA
Pembangunan kebun induk lada meliputi beberapa tahapan yaitu
persiapan lahan, pembenihan, penanaman, pemeliharaan dan panen.
Rincian masing-masing tahapan sebagai berikut:
A. Persiapan Lahan
1.Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah di awali dengan pembukaan lahan atau land
clearing yang dilakukan dengan penebangan pohon-pohon kecil,
belukar dan penebangan pohon-pohon besar, serta pembongkaran
tunggul-tunggul dan akar-akarnya.
2.Design Kebun (Tata Letak Tanaman)
Sebelum
penanaman
dilakukan
sebaiknya
dirancang
terlebih
dahulu tata letak pertanaman yang ideal dengan maksud untuk
memudahkan pencarian setiap varietas yang ditanam.
www.djpp.depkumham.go.id
2013, No.132
Kebun induk dapat terdiri atas satu varietas atau beberapa
varietas. Apabila terdiri atas beberapa varietas, kebun induk
dibagi
dalam
beberapa
blok
yang
berukuran
x
m
berdasarkan varietas yang akan ditanam. Jumlah tanaman per
blok 100-150 tanaman.
3.Pengajiran, Penanaman Pohon Panjat dan Pembuatan Lubang
Tanam
Pada akhir musim kemarau (1 bulan sebelum musim hujan),
lahan dibersihkan dari pepohonan, semak belukar dan sisa-sisa
pohon yang ditebang. Selanjutnya dilakukan pengajiran, khusus
untuk kebun induk jarak tanam bisa lebih rapat, yaitu 1,75 x
1,75 m atau 2 x 2 m.
Pada awal musim hujan ditanam tajar/pohon panjat
(Gambar 1).
Pohon panjat yang disarankan yaitu gamal (Glyricidia maculate)
dan dadap cangkring (Erythrina fusca Lour). Kedua jenis tanaman
ini akarnya mengandung unsur
hara N, murah dan mudah
didapat, selain itu tahan dipangkas dan efek alelopatinya kecil
terhadap pertumbuhan tanaman lada.
Pohon panjat diperbanyak dengan setek batang dengan panjang 2
m, diameter 5 cm, dan tidak terlalu tua atau terlalu muda.
Ditanam
tepat
ditengah-tengah
bekas
ajiran
dengan
menancapkan pangkalnya sedalam 25-30 cm ke dalam tanah lalu
dipadatkan tanahnya.
Gambar 1. Pohon panjat ditanam pada awal musim hujan
Lubang tanam lada dibuat dengan ukuran
60 x 60 x 60 cm
(panjang,
lebar
dan
dalam)
dengan
jarak
± 10 cm disebelah timur pohon panjat (Gambar 2). Tanah bekas
galian dibiarkan selama ± 40 hari sebelum dilakukan penanaman
benih lada. Kemudian setiap lubang tanam diisi dengan campuran
tanah dan 5-10 kg pupuk kandang sapi atau kompos yang sudah
matang sampai berbentuk guludan setinggi 25 cm.
www.djpp.depkumham.go.id
2013, No.132
Gambar 2. Lubang tanam berjarak ± 10 cm
disebelah timur pohon panjat
Dibuat
saluran
pembuangan
air
diantara
barisan
tanaman
dengan ukuran 30 x 20 cm (lebar x dalam) dan parit keliling
kebun berukuran 40 x 30 cm (lebar x dalam) (Gambar 3).
Gambar 3.Pembuatan saluran pembungan air antar barisan dan
parit
sekeliling kebun untuk mencegah air tergenang dalam
kebun.
B. Pembenihan
1. Persiapan Setek Lada
Setek lada diambil dari sulur panjat yang sudah berkayu berasal
dari pohon induk varietas unggul berumur < 3 tahun (belum
berproduksi), sehat, tanpa gejala serangan hama dan penyakit
(Gambar 4), lalu dicuci dengan air mengalir. Untuk
memperbanyak lada dapat menggunakan setek 5-7 atau setek 1
ruas.
a. cara membuat setek 5-7 ruas yaitu:
1) Sulur dipotong-potong menjadi setek 5-7 ruas (Gambar 5).
2) Setek dicelupkan ke dalam larutan fungisida Dethane M-45
selama
lebih
kurang
menit
untuk
mengurangi
kemungkinan terinfeksi penyakit.
3) Setek 5-7 ruas dapat langsung ditanam di lapangan.
www.djpp.depkumham.go.id
2013, No.132
Gambar 4. Sulur untuk bahan setek
Gambar 5. Setek 5-7 ruas
b. cara membuat setek 1 ruas yaitu:
1) Penggunaan
setek
satu
ruas
berdaun
tunggal
harus
disemaikan terlebih dahulu pada polybag sampai tumbuh
menjadi 5-7 ruas.
2) Setek panjang dipotong-potong menjadi setek satu ruas
berdaun tunggal (Gambar 6).
3) Kemudian direndam dalam larutan gula (1-2%) selama ½ - 1
jam, lalu disemai dalam polybag ukuran 10 x 12 cm
yang
berisi media tanam campuran tanah atas (top soil) dengan
pupuk kandang dan pasir kasar atau sekam padi dengan
perbandingan 2:1:1 atau 1:1:1 (Gambar 7).
4) Benih
yang
sudah
ditanam
dalam
polybag
disimpan
ditempat
persemaian
yang
ternaungi
(intensitas
sinar
matahari 50-75%) (Gambar 8).
5) Naungan persemaian dapat terbuat dari daun kelapa, alang-
alang atau paranet.
6) Persyaratan persemaian dapat dilihat pada Format-1 dan
harus mengikuti Standarisasi Nasional Indonesia (SNI) 2006
dari Badan Standardisasi Nasional (BSN).
7) Untuk
mempertahankan
kelembaban
lingkungan
maka
diperlukan
sungkup
plastik
dengan
kerangka
bambu
setinggi
lebih
kurang
m
(Gambar
8).
Penyiraman
dilakukan
hari
sekali
dengan
menggunakan
embrat.
Sungkup dibuka setiap pagi (jam 09.00-10.00) selama 1
jam.
www.djpp.depkumham.go.id
2013, No.132
8) Apabila telah tumbuh 2-3 daun baru, setiap benih harus
diberi
tegakan
dari
bambu
agar
terbentuk
akar
lekat.
Sungkup plastik kemudian dibuka. Benih siap ditanam
apabila setek telah tumbuh mencapai 5-7 ruas (Gambar 9).
Gambar 6. Setek satu ruas berdaun tunggal siap disemai
Gambar 7. Setek satu ruas berdaun tunggal disemaikan pada polybag
Gambar 8. Tempat persemaian lada setek satu ruas berdaun tunggal
C.Penanaman
Cara penanaman benih lada sebagai berikut:
1.
Penanaman dilakukan pada saat musim penghujan.
2.
Setek lada 5-7 ruas ditanam miring (30 – 45o) dalam alur
mengarah pada pohon panjat. Sebanyak 3-4 ruas bagian pangkal
daunnya
dibuang
kemudian
dibenamkan
ke
dalam
lubang
tanam,
sedangkan
bagian
atasnya
(2-3
ruas
berdaun)
disandarkan pada pohon panjat kemudian diikat dengan tali
(Gambar 9). Tanah disekelilingnya dipadatkan dengan tangan.
www.djpp.depkumham.go.id
2013, No.132
3.
Apabila
menggunakan
benih
yang
berasal
dari
polybag,
polybagnya dibuang, sedangkan tanahnya harus tetap utuh
menempel pada akar (Gambar 10).
Daun yang terdapat pada
ruas 1-3 dari pangkal batang dibuang, benih kemudian ditanam
pada lubang tanam. Sulur bagian atas diikat dengan tali pada
pohon panjat (Gambar 11).
4.
Tanah disekelilingnya dipadatkan dengan tangan.
5.
Benih yang telah ditanam diberi naungan, berupa daun alang-
alang atau daun kelapa yang diikat pada pohon panjat (Gambar
12). Setelah tanaman lada cukup kuat naungan dilepas.
6.
Lakukan penyulaman apabila ada setek yang mati.
7.
Dalam waktu 2-3 bulan telah tumbuh tunas-tunas baru yang
selanjutnya menjadi sulur-sulur panjat lada.
8.
Tanaman
penutup
tanah
seperti
Arachys pentoi
pada
areal
diantara
barisan
tanaman
lada
yang
dapat
menghambat
penyebaran penyakit dalam kebun.
Gambar 9. Cara penanaman langsung setek 5-7 ruas
Gambar 10. Cara penanaman benih berasal dari setek satu ruas.
Polybagnya dibuang, tanah tetap menempel pada akar.
www.djpp.depkumham.go.id
2013, No.132
Gambar 11. Sulur diikat dengan tali pada pokok pohon panjat.
Tanah disekeliling pangkal batang dipadatkan dengan tangan
Gambar 12.
a. benih diberi naungan daun alang-alang, jerami atau daun
kelapa yang diikat pada pokok pohon panjat.
b. setelah benih cukup kuat naungan dibuang
D. Pemeliharaan
1. Penyiraman
Penyiraman dilakukan jika tidak turun hujan, air penyiraman
diberikan dalam jumlah cukup, dalam arti sesuai kebutuhan, jika
terlalu
sedikit
tanaman
akan
mengalami
dehidrasi
atau
kekurangan cairan yang dapat menghambat pertumbuhannya.
Sebaliknya
jika
berlebihan
akan
menyebabkan
busuk
akar
karena
tanaman
lada
tidak
tahan
terhadap
kelebihan
air.
Penyiraman
sangat
diperlukan
terutama
pada
periode
kritis
tanaman yaitu < 60 hari setelah tanam.
2. Penyiangan
Penyiangan dilakukan secara rutin yaitu membersihkan sekitar
pangkal batang tanaman lada antara 3-4 kali dalam setahun,
penyiangan bersih dilakukan hanya pada guludan tanam dengan
cara dicabut pakai tangan,
hindari penggunaan alat seperti
cangkul atau kored untuk mengurangi kerusakan akar lada.
www.djpp.depkumham.go.id
2013, No.132
Areal
diantara
barisan
tanaman
lada
disiang
dengan
cara
memotong/babat gulma dengan parang/arit.
3. Pengikatan Sulur Panjat Lada
Sulur panjat harus selalu melekat pada pokok pohon panjat.
Sulur panjat yang baru tumbuh diikat pada pokok tegakan
dengan tali, pengikatan sulur dilakukan tepat dibawah bagian
ruas agar setiap ruas sulur melekat pada pokok pohon panjat.
Hanya
sulur
panjat
yang
terbaik
dipelihara
dan
sisanya
dipangkas. Sulur tanah dan sulur cacing dibuang karena akan
menghambat pertumbuhan ketiga sulur panjat.
4. Pemangkasan Sulur Panjat
Pemangkasan sulur panjat lada dilakukan bersamaan dengan
panen setek pertama, yaitu setelah sulur mencapai 7-9 ruas
(umur
tanaman ± 7-9 bulan) pada ketinggian ± 30 cm dari
permukaan tanah.
Setelah dipangkas dari sulur tersebut akan
tumbuh sulur-sulur baru. Hanya 3 sulur panjat yang terbaik
dipelihara dan sisanya dibuang. Setiap kali setelah pemangkasan,
bekas pangkasan harus diolesi fungisida untuk mencegah infeksi
penyakit.
5. Pemupukan
Pemupukan dilakukan setelah pemangkasan sulur panjat. Jenis
pupuk yang diberikan dapat berupa butiran seperti urea, SP-36
dan
KCl
atau
pupuk
bentuk
tablet.
Disarankan
untuk
menggunakan pupuk tablet, karena umumnya kandungan unsur
haranya lebih lengkap (NPKCaMg dan unsur mikro). Dosis pupuk
jenis butiran dapat dilihat pada Tabel 1, dan dosis pupuk tablet
dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 1. Dosis pupuk jenis butiran untuk kebun induk lada
Umur Tanam
(tahun)
Dosis pupuk/
tanaman
(g)
Interval pemberian
(bulan)
Urea
SP3
KCl
<1
1-2
2
Sumber : Balittro, 2007
www.djpp.depkumham.go.id
2013, No.132
Sebelum
dilakukan
pemupukan,
guludan
dibersihkan
dari
gulma.
Untuk
pupuk
jenis
butiran
diberikan
dengan
cara
ditaburkan dalam alur sedalam 5 cm, yang dibuat memanjang
disebelah kiri-kanan batas guludan, lalu ditutup kembali dengan
tanah.
Tabel 2. Dosis pupuk tablet untuk kebun induk lada
Umur Tanam
(tahun)
Dosis
(g)
Interval pemberian (bulan)
<1
6 (awal dan akhir musim hujan)
1-2
6 (awal dan akhir musim hujan)
2
6 (awal dan akhir musim hujan)
Sumber : Balittro,2007
Pupuk jenis tablet diberikan pada 4 lubang tugal sedalam 10-15
cm searah angin pada batas guludan (Gambar 13). Pupuk tablet
diberikan 2 kali per tahun, yaitu pada awal dan akhir musim
hujan, masing-masing ½ dosis. Dibagi secara merata disetiap
titik tugalan.
Pada awal musim kemarau diberikan 5 kg/tanaman pupuk
kandang atau kompos yang telah matang.
Gambar 13. Lubang tugal tempat penempatan pupuk tablet
Ukuran 30 – 50 cm dari batang
6. Pemangkasan Pohon Panjat (Tajar Hidup)
Apabila terlalu rimbun (intensitas sinar matahari yang masuk, 50
%) pohon panjat harus dipangkas. Tanaman lada membutuhkan
intensitas sinar matahari 50-75%. Pemangkasan pohon panjat
dilakukan 2 kali setahun, yaitu pada awal
dan akhir musim
www.djpp.depkumham.go.id
2013, No.132
hujan dengan meninggalkan 2-3 cabang. Pemangkasan dilakukan
7-10
hari
sebelum
dilakukan
pemupukan.
Hasil
pangkasan
berupa biomas dapat digunakan sebagai mulsa yang diberikan
pada guludan tanaman lada menjelang musim kemarau dan
untuk bahan baku pembuatan kompos atau untuk pakan ternak.
7. Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)
Pengendalian OPT merupakan faktor penting yang menentukan
keberhasilan usaha tani lada. Serangan OPT dapat mematikan
tanaman yang sedang dibudidayakan, kerugian akibat serangan
OPT yang paling terlihat yaitu menurunnya pertumbuhan dan
produktivitas tanaman. Serangan OPT yang sering dijumpai pada
kebun induk lada antara lain:
a.Pengendalian Hama
1) Penggerek Batang (Lophobaris piperis)
Larva kumbang moncong ini membuat lubang bulat dekat
pangkal
percabangan
muda
dan
kemudian
masuk
dan
menggerek kedalamnya. Larva kumbang moncong memakan
bagian
tengah
batang
sehingga
mengakibatkan
pertumbuhan
tanaman
terganggu
bahkan
dapat
menyebabkan
kematian.
Pengendaliannya
dengan
cara
memotong cabang terserang, dimasukkan dalam karung,
dibawa keluar kebun kemudian dibakar. Atau menggunakan
musuh
alaminya
yaitu
Spathius
piperis,
Euderus
sp.,
Dinarmus
coimbatorensis,
Eupelmus
curculionis
dan
Beauveria bassiana.
2) Kutu Daun (Taxoptera auranti)
Kutu daun (Taxoptera auranti) memakan daun lada yang
masih muda. Serangan kutu ini mengakibatkan daun lada
menjadi
kering,
keriting
dan
akhirnya
menghitam.
Pengendalian
menggunakan
insektisida
dimetoat
dapat
dilakukan
dengan
dosis
sesuai
dengan
yang
tertera
di
kemasannya.
3) Ulat Siput
Ulat siput dengan ciri berbelang belang, berduri dan berbulu
lembut, serangannya bersifat mendadak dan besar-besaran
yang diserang daun-daunnya sehingga bisa menimbulkan
kerugian yang cukup besar dengan cara memakan daun-
daun lada. Pengendalian dengan dimetoat dengan dosis
sesuai dengan yang tertera dikemasannya diketahui cukup
efektif mengendalikan hama ini.
www.djpp.depkumham.go.id
2013, No.132
b.Pengendalian Penyakit
1) Penyakit Busuk Pangkal Batang
Penyakit ini disebabkan oleh jamur Phytophtora capsici.
Jamur menginfeksi pangkal batang atau akar lada. Gejala
dini sulit dikenali. Gejala tampak apabila pangkal batang
sudah terinfeksi layu, daun tetap tergantung dan berubah
warna
menjadi
coklat
sampai
hitam,
pangkal
batang
berubah warna kulitnya menjadi hitam. Pengendaliannya
dapat dilakukan dengan pemberian musuh alaminya, yaitu
Trichoderma harzianum. Jamur tersebut dapat diperbanyak
dalam substrat campuran jagung dan tanah atau campuran
alang-alang kering dan tanah. Diberikan awal musim hujan
dengan cara disebar disekeliling pangkal batang.
2) Penyakit Keriting Daun (PKD)
Penyakit ini disebabkan oleh virus yang dapat ditularkan
oleh serangga Aphis spp. dan Orosius spp. Sampai saat ini
belum ada cara yang efektif untuk mengendalikan penyakit
ini.
Tindakan
yang
perlu
dilakukan
untuk
mencegah
penyebaran penyakit tersebut antara lain:
a. membongkar
dan
memusnahkan
tanaman
yang
menunjukkan gejala penyakit keriting
b. mengendalikan
populasi
Aphis spp.
dan
Orosius
spp.
dengan menghindari pemakaian bahan tanaman yang
berasal dari tanaman sakit.
3) Penyakit Kuning
Penyakit ini disebabkan oleh nematoda (Radopholus simillis
dan Meloidogyne intognita) yang mengisap cairan diujung
akar rambut ciri daun menguning lama-lama seluruh bagian
tanaman berubah menjadi cokelat, serta akhirnya kering
dan mati. Pengendalian dengan cara mengganti tanaman
yang sakit dengan tanaman muda yang sehat. Sebelum
penanaman dilakukan, lubang bekas tanaman lama dibakar
agar sisa cacing dan telurnya terbunuh, kemudian disiram
Karbofuran 3% dengan dosis sesuai dengan anjuran.
E.Panen Setek
Kebun
induk
mulai
diambil/dipanen
seteknya
setelah
sulur
mencapai 7-9 ruas (umur 7-9 bulan). Sulur panjat dipangkas pada
ketinggian
±
cm
dari
permukaan
tanah.
(Gambar
14).
Selanjutnya panen setek dilakukan dengan interval 6-9 bulan.
www.djpp.depkumham.go.id
2013, No.132
Semua
bunga
yang
muncul
harus
dibuang,
karena
akan
mempengaruhi pertumbuhan sulur utama.
Setiap kali setelah panen setek, bekas pangkasan harus diolesi
fungisida Mankozeb 80% untuk mencegah infeksi penyakit.
Gambar 14. Cara panen pertama setek lada. Untuk sumber benih
hanya 3 cabang utama yang dipertahankan.
Sulur-sulur dengan cabang-cabangnya yang baru dipanen segera
dibawa
ke
tempat
penyiapan
benih.
Sulur-sulur
diletakkan
di
tempat teduh, kemudian di semprot dengan air dan ditutupi dengan
daun pisang atau koran basah. Buang cabang-cabang pada sulur,
kemudian sulur dipotong-potong menjadi 5-7 ruas atau 1 ruas
berdaun tunggal.
Setek yang telah terkumpul kemudian disortir dengan cara sebagai
berikut:
1.
Pilih setek yang kekar, gemuk, berwarna hijau tua sampai hijau
kecokelatan dan agak mengayu.
2.
Pada setiap ruasnya terdapat banyak akar.
3.
Pada setiap ketiak daun terdapat mata tidur.
4.
Daun pada setek tampak sehat, tidak terserang hama penyakit
dan tidak ada gejala kekurangan unsur hara.
5.
Setek yang terpilih selanjutnya dicuci dengan air mengalir dan
dicelupkan dalam larutan fungisida.
IV. PROSEDUR PENETAPAN KEBUN INDUK LADA
Untuk penetapan kebun sumber benih perlu ditempuh tahapan sebagai
berikut:
A.
Permohonan Penetapan Kebun Induk Lada
1.
Untuk penetapan kebun benih lada sebagai sumber benih,
maka pemilik (perorangan, kelompok tani, instansi pemerintah
www.djpp.depkumham.go.id
2013, No.132
atau swasta) yang membangun calon kebun sumber benih
mengajukan permohonan penilaian kelayakan kebun sebagai
Kebun
Induk
kepada
Direktorat
Jenderal
Perkebunan,
Kementerian Pertanian di Jakarta dan untuk kebun entres
kepada Dinas yang membidangi perkebunan di provinsi.
2.
Permohonan dilengkapi dengan riwayat pembangunan kebun
induk/kebun entres meliputi (1) komposisi jenis klon yang
ditanam, (2) sertifikat mutu benih yang ditanam, (3) tata letak
kebun benih, (4) riwayat penanaman dan kondisi kebun (luas
lahan,
jumlah
pohon,
data
produksi,
umur
tanaman,
keterangan kondisi serangan hama dan penyakit utama, (5)
status kepemilikan lahan calon kebun sumber benih (Format-
9).
3.
Permohonan diajukan saat kondisi tanaman minimal berumur
2 (dua) tahun setelah tanam.
B. Proses Penilaian Calon Kebun Benih
Berdasarkan permohonan pemilik kebun induk lada tersebut, maka
dilakukan
penilaian
kelayakan
Kebun
Induk
oleh
Tim
yang
ditetapkan
Direktur
Jenderal
Perkebunan
dengan
keanggotaan
terdiri
dari
Direktorat
Jenderal
Perkebunan
(Bagian
yang
menangani perbenihan komoditi terkait), Balai Besar Perbenihan
dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP), Puslit/Balit terkait
dan
Dinas
yang
membidangi
perkebunan
provinsi/UPTD
Perbenihan.
Penilaian kelayakan kebun induk yaitu proses penilaian kebun dari
aspek administrasi dan aspek lapangan.
1.
Penilaian Aspek Administrasi
Terdiri dari pemeriksaan dokumen pemohon berupa:
a.
Tanda Registrasi Usaha Perbenihan (TRUP) bagi pengusaha
perbenihan;
b.
surat keterangan
yang memuat asal benih tetua,
alat
prosesing dan pergudangan yang dimiliki;
c.
sketsa peta lokasi, desain pertanaman, blok serta batas-
batas areal;
d.
surat pernyataan dari pemohon yang menyatakan akan
memenuhi ketentuan yang berlaku.
2.
Penilaian Aspek Teknis
Penilaian teknis bertujuan menilai kelayakan teknis calon
Kebun Benih di lapangan meliputi aspek kemurnian tanaman,
www.djpp.depkumham.go.id
2013, No.132
kondisi kesehatan tanaman, produktivitas tanaman, dan
kesesuaian persyaratan lokasi. Untuk penilaian ini langkah
yang harus dilakukan yaitu pemurnian calon Kebun Benih.
3.
Pemurnian Kebun Benih
Tujuan
utama
kegiatan
pemurnian
yaitu
melakukan
identifikasi tanaman calon Kebun Benih sesuai dengan jenis
klon
yang
ditanam
menurut
komposisi
yang
dipilih
sebagaimana jenis-jenis yang dianjurkan. Tingkat kemurnian
Kebun Benih yaitu 100% terdiri atas jenis-jenis klon anjuran
yang dipilih.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan ketidak murnian klon
pada areal calon kebun benih antara lain (1) ketidaktelitian
saat pengambilan dan pengemasan entres yang digunakan
sebagai bahan pembenihan, (2) kesalahan pelabelan benih, dan
(3) kesalahan penanaman. Oleh karena itu pemurnian Kebun
Benih dilakukan sedini mungkin setelah tanaman memasuki
fase sekitar umur 6 – 8 bulan. Tanaman lada yang tidak sesuai
dengan klon yang dianjurkan harus dihilangkan/dibongkar dan
diganti dengan klon anjuran.
4.
Penyusunan Berita Acara Hasil Pemurnian
Setelah
proses
pemurnian
calon
Kebun
Benih
selesai
dilaksanakan oleh Tim kemudian disusun Berita Acara Hasil
Pemurnian yang ditandatangani oleh anggota Tim. Berita Acara
merekomendasikan
status
calon
kebun
benih
layak/tidak
layaknya sebagai kebun sumber benih disertai saran-saran
yang harus ditindaklanjuti (Format-10).
C. Penerbitan Keputusan Penetapan Kebun Sumber Benih
Calon Kebun Benih yang dinyatakan layak akan ditindaklanjuti
dengan penetapan sebagai kebun sumber benih. Penetapan Kebun
Induk
lada
dengan
Keputusan
Direktur
Jenderal
Perkebunan,
sedangkan penetapan Kebun Entres dengan Keputusan Direktur
Jenderal Perkebunan atau Keputusan Kepala Dinas provinsi yang
membidangi perkebunan.
D. Pembinaan dan Pengawasan Peredaran Benih
1. Untuk
menjamin
kelayakan
sumber
benih
perlu
dilakukan
evaluasi minimal 1 (satu) kali setiap tahun, yang dilaksanakan
oleh
Tim
yang
mempunyai
tugas
dan
fungsi
melakukan
monitoring dan evaluasi Kebun Benih yaitu Direktorat Jenderal
Perkebunan dengan melibatkan Pengawas Benih Tanaman pada
www.djpp.depkumham.go.id
2013, No.132
Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan atau
UPTD yang menangani pengawasan peredaran dan mutu benih
tanaman perkebunan di setiap provinsi, serta petugas yang
berkompeten pada Balai Penelitian/Pusat Penelitian yang terkait.
Apabila hasil evaluasi sumber benih tersebut tidak memenuhi
standar,
maka
produksi
benih
untuk
sementara
dihentikan
peredarannya sesuai dengan peraturan dan perundangan yang
berlaku.
2. Setelah
ditetapkan
sebagai
Kebun
Benih
maka
dilakukan
pengawasan
peredaran
dan
mutu
benih
oleh
Balai
Besar
Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan atau UPTD yang
menangani pengawasan peredaran dan mutu benih tanaman
perkebunan.
V. PENUTUP
Dengan tersusunnya Pedoman Teknis Pembangunan Kebun Induk
Lada ini, maka dapat digunakan sebagai acuan bagi para pemangku
kepentingan (stakeholder) baik swasta maupun pemerintah sehingga
dapat dihasilkan benih lada yang bermutu. Dengan demikian produksi
dan
mutu
lada
dapat
ditingkatkan,
yang
pada
akhirnya
dapat
meningkatkan pendapatan petani maupun devisa negara.
MENTERI PERTANIAN
REPUBLIK INDONESIA,
SUSWONO
www.djpp.depkumham.go.id
2013, No.132
Format-1
PERSYARATAN KEBUN INDUK LADA DAN
PERSYARATAN PERSEMAIAN LADA
(SNI 01-7155-2006)
No
Jenis Spesifikasi
Satuan
Persyaratan
A.
Persyaratan Kebun Induk Lada
1.
Kemurnian varietas
%
≥98
2.
Umur pohon induk
Bulan
≥97
3.
Kesehatan tanaman terpilih
%
B.
Persyaratan persemaian lada
1.
Kesehatan lingkungan
%
2.
Intensitas sinar matahari
%
50-75
3.
Suhu Udara
0C
22-30
4.
Kelembababn (RH)
%
80
5.
Kelengasan Tanah
%
80 - 100
C.
Persyaratan mutu benih lada sebagai pohon induk menurut
Standarisasi Nasional Indonesia (SNI 01-7155-2006) dari Badan
Standarisasi Nasional (BSN)
Benih murni
%
Kesehatan benih
%
Jumlah ruas (lada panjat)
Ruas
5-7
Jumlah daun (lada perdu)
Helai daun
5-8
Asal benih
Ruas ke....dari
pucuk
≥4
www.djpp.depkumham.go.id
2013, No.132
Format-2
DESKRIPSI LADA VARIETAS PETALING 1
Asal
: Koleksi Balai Penelitian Tanaman
Rempah dan Obat
Panjang tangkai daun
: 21 mm
Bentuk tangkai
: Bulat beralur
Bentuk daun
: Bulat telur hingga belah ketupat
Ratio panjang/lebar
: 1, 64
Pertulangan daun
: Bersirip ganjil, anak tulang daun 6
Warna daun
: Hijau tua
Ujung daun
: Meruncing
Kaki daun
: Tumpul hingga oblique
Permukaan daun
: Licin mengkilap
Bentuk batang
: Pipih
Warna batang muda
: Unggu kehijauan
Panjang ruas batang
: 68 mm
Pencabangan
: Tegak
Panjang ruas cabang
: 48 mm
Sulur gantung/sulur
tanah
: Banyak
Jumlah akar lekat
: Banyak
Daya lekat akar
: Kuat
Rata-rata tandan
percabang
: 13,4
Panjang tandan
: 87 mm
Sifat pembungaan
: Bermusim
Umur mulai berbunga
: + 10 bulan
Bentuk buah
: Bulat
Warna buah muda
: Hijau
Warna buah masak
: Merah Jingga
www.djpp.depkumham.go.id
2013, No.132
Mulai berbunga sampai
dengan buah masak
:
+ 9 bulan
Rata-rata buah
pertandan
: +60 butir
Persentase buah
sempurna
: + 64, 8 %
Berat 1.000 buah kering
: 57,0 gram
Berat 1.000 biji kering
: 40,1 gram
Rata-rata hasil
: 4,48 ton/ha (+2,8 kg/pohon) lada putih
kering
Ketahanan terhadap
penyakit
: Agak tahan penyakit kuning
Peka terhadap busuk pangkal batang
Keterangan
: Dapat di tanam di tanah-tanah yang
kurang subur, pada tanah yang subur
di usia tua pertumbuhannya akan lebih
baik. Pemakaian tiang panjat mati dan
mulsa lebih cocok
Peneliti
: Auzay Hamid, Yang Nuryati, Rusli
Kasim, Djiman Sitepu, Panji
Laksamanhardja dan Pasril Wahid
www.djpp.depkumham.go.id
2013, No.132
Format-3
DESKRIPSI LADA VARIETAS PETALING 2
Asal
: Koleksi Balai Penelitian Tanaman
Rempah dan Obat
Panjang tangkai daun
: 21 mm
Bentuk tangkai
: Bulat beralur
Bentuk daun
: Bulat telur
Ratio panjang/lebar
: 1,55
Pertulangan daun
: Bersirip ganjil, anak tulang daun 6
Warna daun
: Hijau tua
Ujung daun
: Meruncing
Kaki daun
: Runcing hingga oblique
Permukaan daun
: Licin mengkilap
Bentuk batang
: Pipih
Warna batang muda
: Unggu hijau hingga hijau kecoklatan
Panjang ruas batang
: 76 mm
Sulur gantung/sulur
tanah
: Sedikit hingga sedang
Jumlah akar lekat
: Banyak
Daya lekat akar
: Lemah sampai sedang
Rata-rata tandan percaban : 11,5
Panjang tandan
: 110 mm
Sifat pembungaan
: Bermusim
Umur mulai berbunga
: 11 bulan
Bentuk buah
: Bulat besar
Warna buah muda
: Hijau
Warna buah masak
: Merah jingga
Mulai berbunga sampai
dengan buah masak
:
+ 8 bulan
www.djpp.depkumham.go.id
2013, No.132
Rata-rata buah
pertandan
: +80 butir
Persentase buah
sempurna
: + 66,1%
Berat 1.000 buah kering
: 56,0 gram
Berat 1.000 biji kering
: 43,1 gram
Rata-rata hasil
: 4,80 ton/ha (+3,0 kg/pohon) lada
putih kering
Ketahanan terhadap
penyakit
: Agak tahan penyakit kuning
Agak peka terhadap busuk pangkal
batang
Keterangan
: Dianjurkan tanam di tanah yang
bebas penyakit busuk pangkal batang
dan penyakit kuning serta tingkat
kesuburan sedang sampai tinggi. Tiang
penegak mati lebih cocok
Peneliti
: Auzay Hamid, Yang Nuryati, Rusli
Kasim, Djiman Sitepu, Panji
Laksamanhardja dan Pasril Wahid
www.djpp.depkumham.go.id
2013, No.132
Format-4
DESKRIPSI LADA VARIETAS LAMPUNG DAUN KECIL
Asal
: Desa Sungkap
Panjang tangkai daun
: 1,45 cm
Bentuk tangkai
: Beralur
Bentuk daun
: Bulat telur
Ratio panjang/lebar
: 1,871
Pertulangan daun
: Menyirip
Warna daun
: Hijau tua
Ujung daun
: Meruncing
Kaki daun
: Runcing
Permukaan daun
: Licin
Bentuk batang
: Bulat
Warna batang muda
: Hijau
Panjang ruas batang
: 5,79 cm
Pencabangan
: Menggarpu
Panjang ruas cabang
: 1,37 cm
Sulur gantung/sulur tanah
: Banyak
Jumlah akar lekat
: Banyak
Daya lekat akar
: Kuat
Rata-rata tandan percabang
: 34,849 tandan
Panjang tandan
: 7.782 cm
Sifat pembungaan
: Serempak
Umur mulai berbunga
: 7 bulan
Bentuk buah
: Lonjong
Warna buah muda
: Hijau tua
Warna buah masak
: Kuning kemerahan
Mulai berbunga sampai
: 196 hari
www.djpp.depkumham.go.id
2013, No.132
dengan buah masak
Rata-rata buah pertandan
: 73,52 buah
Persentase buah sempurna
: 48,46 %
Berat 1.000 buah kering
: 57,76 gram
Berat 1.000 biji kering
: 50,44 gram
Rata-rata hasil
: 3,865 ton/ha
Ketahanan terhadap
penyakit
: Peka terhadap penyakit kuning,
toleran terhadap busuk pangkal
batang.
Keterangan
: Dapat dianjurkan untuk ditanam
di daerah yang belum mendapat
serangan penyakit kuning.
Peneliti
: Auzay Hamid, Yang Nuryati dan
Pasril Wahid
www.djpp.depkumham.go.id
2013, No.132
Format-5
DESKRIPSI LADA VARIETAS CHUNUK
Asal
: Koleksi Balai Penelitian Tanaman
Rempah dan Obat
Panjang tangkai daun
: 1,90 cm
Bentuk tangkai
: beralur
Bentuk daun
: Jorong
Ratio panjang/lebar
: 1.868
Pertulangan daun
: Menyirip
Warna daun
: Hijau tua
Ujung daun
: Meruncing
Kaki daun
: Meruncing
Permukaan daun
: Licin
Bentuk batang
: Bulat
Warna batang muda
: Hijau Muda
Panjang ruas batang
: 5,39 cm
Percabangan
: Menggarpu
Panjang ruas cabang
: 1,48 cm
Sulur gantung/sulur tanah
: Kurang
Jumlah akar lekat
: Banyak
Daya lekat akar
: Lemah
Rata-rata tandan
percabang
: 25,560 tandan
Panjang tandan
: 9,196 cm
Sifat pembungaan
: Tidak serempak
Umur mulai berbunga
: 8 bulan
Bentuk buah
: Bulat
Warna buah muda
: Hijau
www.djpp.depkumham.go.id
2013, No.132
Warna buah masak
: Kuning kemerahan
Mulai berbunga sampai
dengan buah masak
: 225 hari
Rata-rata buah pertandan
: 66,56 butir
Persentase buah sempurna
: 43.39 %
Berat 1.000 buah kering
: 72,00 gram
Berat 1.000 biji kering
: 48,80 gram
Rata-rata hasil
: 1,970 ton/ha
Ketahanan terhadap
penyakit
: Peka terhadap penyakit kuning,
toleran terhadap busuk pangkal
batang
Keterangan
: Dapat dianjurkan tanam untuk
dibudidayakan sebagai lada perlu
Peneliti
: Auzay Hamid, Yang Nuryati dan
Pasril Wahid
www.djpp.depkumham.go.id
2013, No.132
Format-6
DESKRIPSI LADA VARIETAS NATAR I
Asal
: Koleksi Balai Penelitian Tanaman
Rempah dan Obat
Panjang tangkai daun
: 20 mm
Bentuk tangkai daun
: Bulat teratur
Bentuk daun
: Bulat telur hingga oval
Ratio panjang/lebar
: 1.71
Pertulangan daun
: Bersirip ganjil, anak tulang daun 4
Warna daun
: Hijau hingga hijau tua
Ujung daun
: Meruncing
Kaki daun
: Tumpul hingga bulat
Permukaan daun
: Licin mengkilap
Bentuk batang
: Pipih
Warna batang muda
: Unggu hijau
Panjang ruas batang
: 85 mm
Pencabangan
: Tegak
Pancang ruas cabang
: 68 mm
Sulur gantung/sulur
tanah
: Banyak
Jumlah akar lekat
: Banyak
Daya lekat akar
: Kuat
Rata-rata tandan
percabang
: 14,6
Panjang tandan
: 87 mm
Sifat pembungaan
: Bermusim
Umur mulai berbunga
: 10 bulan
Bentuk buah
: Bulat
Warna buah muda
: Hijau
www.djpp.depkumham.go.id
2013, No.132
Warna buah masak
: Merah jingga
Mulai berbunga sampai
dengan buah masak
:
8 bulan
Rata-rat buah pertandan
: 57,3 butir
Persentase buah
sempurna
: 66,7 %
Berat 1.000 buah kering
: 53 gram
Berat 1.000 biji kering
: 38 gram
Rata-rata hasil
: 4,00 ton/ha (+2,5 kg/pohon) lada
hitam kering
Ketahanan terhadap
penyakit
: Agak
peka
terhadap
penyakit
kuning.
Medium
sampai
agak
tahan
terhadap busuk pangkal batang.
Keterangan
: Dianjurkan tanam di daerah yang
tingkat penularan penyakit busuk
batang belum begitu tinggi. Varietas
ini responsive terhadap pemupukan
dan cahaya. Pemangkasan tiang
panjat hidup 1 x 4 bulan, setinggi +
3 m diperlukan
Peneliti
: Auzay Hamid, Yang Nuryati, Rusli
Kasim, Djiman Sitepu, Panji
Laksamanhardja dan Pasril Wahid
www.djpp.depkumham.go.id
2013, No.132
Format-7
DESKRIPSI LADA VARIETAS NATAR II
Asal
: Koleksi Balai Penelitian Tanaman
Rempah dan Obat
Panjang tangkai daun
: 25 mm
Bentuk tangkai daun
: Bulat teratur
Bentuk daun
: Bulat telur hingga bulat panjang
Ratio panjang/lebar
: 1.85
Pertulangan daun
: Bersrip ganjil, anak tulang daun 6
Warna daun
: Hijau tua
Ujung daun
: Meruncing
Kaki daun
: Tumpul hingga oblique
Permukaan daun
: berombak
Bentuk batang
: Pipih hingga agak bulat
Warna batang muda
: Unggu hijauan
Panjang ruas batang
: 68 mm
Pencabangan
: Tegak
Pancang ruas cabang
: 64 mm
Sulur gantung/sulur
tanah
: Kurang
Jumlah akar lekat
: Banyak
Daya lekat akar
: Kuat
Rata-rata tandan
percabang
: 11,3
Panjang tandan
: 81 mm
Sifat pembungaan
: Bermusim
Umur mulai berbunga
: +10 bulan
Bentuk buah
: Bulat higga lonjong
Warna buah muda
: Hijau muda
Warna buah masak
: Merah jingga
www.djpp.depkumham.go.id
2013, No.132
Mulai berbunga sampai
denganbuah masak
: + 7 bulan
Rata-rata buah pertandan
: 56 butir
Persentase buah
sempurna
: 60,4 %
Berat 1.000 buah kering
: 57 gram
Berat 1.000 biji kering
: 41,8 gram
Rata-rata hasil
: 3,53 ton/ha (+2,5 kg/pohon) lada
hitam kering
Ketahanan terhadap
penyakit
: Agak peka terhadap penyakit kuning.
Rendah sampai peka terhadap busuk
pangkal batang.
Keterangan
: Dianjurkan tanam di lahan yang
tingkat kesuburannya sedang sampai
tinggi, belum ketularan penyakit
busuk pangkal batang. Untuk
Lampung tidak boleh tiang penegak
hidup terlalu rimbun daunnya. Tiang
penegak harus dipangkas 1 x 4 bulan
setinggi + 3 meter
Peneliti
: Auzay Hamid, Yang Nuryati, Rusli
Kasim, Djiman Sitepu, Panji
Laksamanhardja dan Pasril Wahid
www.djpp.depkumham.go.id
2013, No.132
Format-8
DESKRIPSI LADA VARIETAS BENGKAYANG
Asal
: Pangkalan Bun
Panjang tangkai daun
: 1,579 cm
Bentuk tangkai daun
: Bulat teratur
Bentuk daun
: Bulat telur
Ratio panjang/lebar
: 1.941
Pertulangan daun
: Menyirip
Warna daun
: Hijau tua
Ujung daun
: Meruncing
Kaki daun
: Tumpul hingga oblique
Permukaan daun
: Licin
Bentuk batang
: Agak pipih
Warna batang muda
: Hijau muda
Panjang ruas batang
: 5,79 cm
Pencabangan
: Menggarpu
Pancang ruas cabang
: 4,58 cm
Sulur gantung/sulur
tanah
: Banyak
Jumlah akar lekat
: Banyak
Daya lekat akar
: Kuat
Rata-rata tandan
percabang
: 42,60 tandan
Panjang tandan
: 9,834 cm
Sifat pembungaan
: Serempak
Umur mulai berbunga
: 10 bulan
Bentuk buah
: Bulat
Warna buah muda
: Hijau muda
www.djpp.depkumham.go.id
2013, No.132
Warna buah masak
: Kuning kemerahan
Mulai berbunga sampai
dengan buah masak
: 189 hari
Rata-rat buah pertandan
: 85,22 buah
Persentase buah
sempurna
: 68,30 %
Berat 1.000 buah kering
: 62,45 gram
Berat 1.000 biji kering
: 43,92 gram
Rata-rata hasil
: 4,669 ton/ha
Ketahanan terhadap
penyakit
: Toleran
terhadap
penyakit
kuning,
toleran
terhadap
busuk
pangkal batang.
Dapat dianjurkan untuk ditanam
di
daerah
yang
kurang
subur.
Memakai tiang panjat mati dan
mulsa lebih baik.
Keterangan
: Dianjurkan untuk di tanam di
daerah yang kurangt subur.
Memakai tiang panjat mati dan
mulsa lebih baik.
Peneliti
: Auzay Hamid, Yang Nuryati dan
Pasril Wahid
www.djpp.depkumham.go.id
2013, No.132
Format-9
Permohonan Izin Produksi Benih Lada
Nomor
:
Kepada Yth:
Lampiran
:
..................................
Hal
: Permohonan Izin
di -
Produksi Benih
..................................
Dengan ini kami :
1. Nama
: .......................................................................
2. Alamat
: .......................................................................
3. Bentuk Usaha : perorangan/badan hukum/ instansi pemerintah*)
4. NPWP
: .......................................................................
Mengajukan permohonan untuk memperoleh izin produksi benih dengan
kelengkapan sebagai berikut:
a. Copy hak guna usaha (HGU);
b. Rencana kerja dan benih yang akan diproduksi;
c. Copy akte pendirian perusahaan bagi badan hukum;
d. Keterangan telah melaksanakan Analisa Mengenai Dampak Lingkungan
(AMDAL) atau Upaya Pengelolaan Lingkungan (UPL).
Demikian disampaikan atas perhatian Bapak diucapkan terima kasih.
Nama dan Tanda Tangan Pemohon
Jabatan
Cap
Materai
(nama terang)
Tembusan disampaikan kepada Yth:
1. Kepala
Dinas
yang
membidangi
Perbenihan
Tanaman
di
Provinsi
............. ;
2. Kepala
Dinas
yang
membidangi
Perbenihan
Tanaman
di
Kabupaten/Kota ...............
www.djpp.depkumham.go.id
2013, No.132
Format-10
BERITA ACARA PEMURNIAN CALON
KEBUN INDUK LADA
Pada hari ini ……………………… tanggal ……… bulan ............. Tahun
...........,
telah
dilakukan
identifikasi,
inventarisasi
dan
pemurnian
terhadap calon kebun induk lada,
1. Nama Pemilik kebun
: ……......………………………………
2. Alamat / Lokasi Kebun
:
a. Kampung/Kelompok Tani
: ………………………………………..
b. Desa
: …………………………………………
c. Kecamatan
: …………………………………………
d. Kabupaten
: …………………………………………
e. Provinsi
: …………………………………………
f. Luas Kebun
: …………………………………………
3. Populasi total tanaman lada
: …………………hektar.
4. Tahun tanam
: …………………
5. Desain kebun yang digunakan:
6. Jumlah tanaman lada yang dinyatakan dapat digunakan sebagai induk
betina dan jantan :………… dan …………Pohon dengan rincian seperti
pada tabel berikut:
No
Blok
Jenis
Varietas
Jumlah Pohon
Mati
Off type
Murni
1.
2.
3.
Total
7.Berdasarkan hasil identifikasi dan pemurnian, maka
kebun ..........
layak/tidak layak sebagai sumber benih dengan komposisi klon tetua
..................... (diisi sesuai kondisi), dengan potensi penyediaan benih
lada sebanyak : ....… butir/tahun.
www.djpp.depkumham.go.id
2013, No.132
8. Saran-saran perbaikan sebagai berikut:
a. ...................................
b....................................
Demikian
berita
acara
ini
dibuat
untuk
dipergunakan
sebagaimana
mestinya.
……..……………..…., .............. 2012
Tim Pemurnian
1.Petugas Direktorat Jenderal Perkebunan (nama dan tanda tangan);
2.Balit/Puslit terkait (nama dan tanda tangan);
3.PBT pada Balai Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (nama
dan tanda tangan);
4.PBT pada UPTD Perbenihan Perkebunan Provinsi (nama dan tanda
tangan);
5.Petugas Teknis pada Dinas yang membidangi Perkebunan Kabupaten
(nama dan tanda tangan).
www.djpp.depkumham.go.id
