Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan :
1. Menteri adalah Menteri Pekerjaan Umum.
2. Bangunan sabo adalah jenis dan macam bangunan air yang dibangun dalam rangka
pengendalian gerakan massa sedimen.
3. Aliran debris adalah suatu aliran dengan angkutan sedimen bersifat kolektif yang
mempunyai konsentrasi sangat tinggi, meluncur ke bawah melalui lereng dan dasar alur
sungai atau lembah curam dengan membawa batu-batu besar dan atau material lain
seperti batang-batang pohon.
4. Semen tanah adalah jenis bahan konstruksi dari campuran semen, tanah, dan air dengan
perbandingan tertentu.
Peraturan Menteri Nomor 03-prt-m-2011 Tahun 2011 tentang PEDOMAN TATA CARA PELAKSANAAN PENGGUNAAN SEMEN TANAH SEBAGAI KOMPONEN UTAMA BANGUNAN SABO
Pasal 1
Pasal 2
(1) Maksud dari Peraturan Menteri ini untuk memberikan acuan dalam pelaksanaan dan
pengendalian pembangunan bendungan Sabo yang menggunakan semen tanah sebagai
komponen utama.
(2) Tujuan ditetapkannya pedoman ini agar pembangunan bendungan Sabo yang
menggunakan komponen utama semen tanah dapat dilaksanakan secara cepat, murah dan
menghasilkan mutu konstruksi sesuai persyaratan teknis yang disyaratkan.
Pasal 3
(1) Ruang lingkup peraturan ini meliputi ketentuan dan persyaratan serta cara pengerjaan
pembangunan Sabo dengan komponen utama menggunakan semen tanah.
(2) Materi muatan tentang Pedoman Tata Cara Pelaksanaan Penggunaan Semen Tanah
Sebagai Komponen Utama Bangunan Sabo dimuat secara lengkap dalam Lampiran yang
merupakan satu kesatuan dan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
Pasal 4
Peraturan ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
www.djpp.depkumham.go.id
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan perundangan Peraturan Menteri ini
dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 15 Maret 2011
MENTERI PEKERJAAN UMUM
REPUBLIK INDONESIA,
DJOKO KIRMANTO
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 31 Maret 2011
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
PATRIALIS AKBAR
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2011 NOMOR 184
www.djpp.depkumham.go.id
LAMPIRAN
PERATURAN MENTERI PEKERJAAN
UMUM
NOMOR:
03/PRT/M/2011
TANGGAL:
15 Maret 2011
www.djpp.depkumham.go.id
Daftar isi
Halaman
Daftar isi .............................................................................................................................. i
Prakata ................................................................................................................................. ii
Pendahuluan ........................................................................................................................ iii
1 Ruang lingkup ................................................................................................................. 1
2 Acuan normatif ............................................................................................................... 1
3 Istilah dan definisi ........................................................................................................... 2
4 Ketentuan dan persyaratan ............................................................................................... 2
4.1
Ketentuan ................................................................................................................... 2
4.2
Persyaratan ................................................................................................................. 3
5 Cara pengerjaan ............................................................................................................... 7
5.1
Persiapan .................................................................................................................... 7
5.2
Investigasi lapangan .................................................................................................... 8
5.3
Pengujian desain campuran ......................................................................................... 8
5.4
Perancangan detail ...................................................................................................... 9
5.5
Pengujian pemadatan lapangan ................................................................................... 9
5.6
Pelaksanaan pembangunan .......................................................................................... 10
Lampiran A Bagan alir ......................................................................................................... 12
Lampiran B Tabel dan gambar ............................................................................................. 13
Lampiran C Contoh perhitungan .......................................................................................... 21
Lampiran D Daftar nama dan lembaga ................................................................................. 35
Bibliografi ........................................................................................................................... 36
www.djpp.depkumham.go.id
Prakata
Penyusunan Pedoman Penggunaan semen tanah sebagai komponen utama bangunan Sabo ini
termasuk dalam Gugus Kerja Sabo, pada Sub Panitia Teknik Sumber Daya Air yang berada
di bawah Panitia Teknik Bahan Konstruksi Bangunan dan Rekayasa Sipil, Kementerian
Pekerjaan Umum.
Penulisan pedoman ini mengacu pada PSN 08:2007 tentang Penulisan Standar Nasional
Indonesia.
Perumusan pedoman ini dilakukan melalui proses pembahasan pada Gugus Kerja, Rapat
Teknis tanggal 18 Februari 2010 dan 31 Agustus 2010, Rapat Konsensus tanggal 8
Desember 2010 di Pusat Litbang Sumber Daya Air Bandung serta Rapat Penetapan pada
tanggal 20 Desember 2010 di Badan Litbang Kementerian Pekerjaan Umum yang
kesemuanya melibatkan para narasumber dan pakar dari berbagai instansi terkait.
Pedoman ini mengacu pada hasil penelitian, hasil pengamatan penerapan di lapangan,
berdasarkan sumber pustaka dan literatur bidang Sabo, serta teori dan praktek lapangan pada
teknologi Sabo di Indonesia maupun di dunia. Pedoman ini dibuat sebagai acuan dalam
pelaksanaan serta pengendalian penggunaan semen tanah sebagai komponen bangunan Sabo
di Indonesia. Pedoman ini juga berisi tentang prosedur pelaksanaan dan pengendalian
pekerjaan.
www.djpp.depkumham.go.id
Pendahuluan
Paska terjadinya gerakan massa debris ataupun lahar, pembangunan bangunan Sabo harus
dapat dilaksanakan secara cepat, aman, dan memenuhi persyaratan teknis. Hal tersebut
selaras dengan amanat yang terkandung dalam UU No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya
Air dan UU No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.
Bangunan Sabo yang dibuat dari bahan beton memerlukan perencanaan dan teknik
pelaksanaan yang relatif lebih rumit serta persyaratan teknis dan material yang kompleks,
sehingga membutuhkan waktu lama dan biaya yang lebih besar. Sedangkan bangunan Sabo
dengan bahan semen tanah merupakan salah satu cara pemanfaatan material tanah sebagai
komponen tubuh bangunan Sabo sehingga waktu pelaksanaan pembangunan bangunan Sabo
menjadi lebih cepat dan murah, tetapi masih dalam koridor aman dan tetap ramah
lingkungan.
www.djpp.depkumham.go.id
Tata cara pelaksanaan penggunaan semen tanah
sebagai komponen utama bangunan Sabo
1 Ruang lingkup
Pedoman ini menetapkan cara pelaksanaan penggunaan semen tanah sebagai komponen
utama bangunan Sabo. Bangunan Sabo semen tanah dibuat dengan mencampur material
tanah dengan semen sebagai upaya stabilisasi dan perkuatan tanah.
2 Acuan normatif
Dokumen referensi di bawah ini harus digunakan untuk melaksanakan pedoman ini.
Undang-Undang No.18 tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi
Undang-Undang No.13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan
Undang-Undang No.32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup
Peraturan Pemerintah No. 4 tahun 2010 tentang Perubahan PP 28 tahun 2000 tentang Usaha
dan Peran Masyarakat Jasa Konstruksi
Peraturan Presiden No. 54 tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah
Peraturan Menteri PU No.04/PRT/2009 tentang Sistem Manajemen Mutu (SMM Dept.PU)
Peraturan Menteri PU No.10/PRT/M/2008 tentang Penetapan Jenis Rencana Usaha dan/
atau Kegiatan Bidang Pekerjaan Umum yang Wajib Dilengkapi dengan Upaya Pengelolaan
Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup.
Peraturan Menteri PU No.09/PER/M/2008 tentang Pedoman Sistem Menejemen Keselamatan
dan Kesehatan Kerja (K3) Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum
Peraturan Menteri Menakertrans No. PER-01/MEN/1980 tentang Keselamatan dan
Kesehatan Tenaga Kerja
Keputusan
Bersama
Menteri
Pekerjaan
Umum
dan
Menteri
Tenaga
Kerja
No.Kep.174/MEN/1986-104/KPTS/1986 tentang Pedoman Keselamatan dan Kesehatan
Kerja pada Tempat Kegiatan Konstruksi
Keputusan Menteri Kimpraswil No.384/KPTS/M/2004 tentang Pedoman Teknis Keselamatan
dan Kesehatan Kerja pada Tempat Kegiatan Konstruksi Bendungan
Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No.KEP.69/MEN/5/2004 tentang Standar
Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Pelaksana Bendungan
SNI ISO 9001, Sistem manajemen mutu - Persyaratan
SNI 19001, Panduan audit sistem manajemen mutu dan/atau lingkungan
SNI ISO 9000, Sistem manajemen mutu – Dasar - Dasar dan kosakata
SNI 1724, Pedoman dan perencanaan hidrologi dan hidraulik untuk bangunan di sungai.
SNI 1964, Cara uji berat jenis tanah.
SNI 1965, Cara uji penentuan kadar air untuk tanah dan batuan di laboratorium.
SNI 1965.1, Metode pengujian kadar air tanah dengan Alat Speedy.
SNI 1968, Metode pengujian tentang analisis saringan agregat halus dan kasar.
SNI 1975, Metode mempersiapkan contoh tanah dan tanah mengandung agregat.
SNI 2492, Metode pengambilan dan pengujian beton inti.
SNI 2828, Metode pengujian kepadatan lapangan dengan alat konus pasir.
SNI 2832, Metode pengujian untuk mendapatkan kepadatan tanah maksimum dengan kadar
air optimum.
SNI 2851, Tata cara perencanaan teknis bendung penahan sedimen.
SNI 6791, Metode pengujian kadar semen pada campuran semen tanah.
SNI 6798, Tata cara pembuatan dan perawatan benda uji kuat tekan dan lentur tanah semen
di laboratorium.
SNI 7064, Semen Portland Komposit
www.djpp.depkumham.go.id
3 Istilah dan definisi
Istilah dan definisi yang berkaitan dengan pedoman ini adalah sebagai berikut:
3.1
aliran debris
suatu aliran dengan angkutan sedimen bersifat kolektif yang mempunyai konsentrasi sangat
tinggi, meluncur ke bawah melalui lereng dan dasar alur sungai atau lembah curam dengan
membawa batu-batu besar dan atau material lain seperti batang-batang pohon
3.2
bangunan Sabo
jenis dan macam bangunan air yang dibangun dalam rangka pengendalian gerakan massa
sedimen
3.3
bendung pengelak
bendung yang berfungsi sebagai pengelak aliran sungai agar pekerjaan dapat dilaksanakan
dengan aman pada debit tertentu
3.4
penyedia jasa konstruksi
Orang perseorangan atau perusahaan jasa konstruksi yang memiliki Sertifikat Badan Usaha
Bidang Sipil, Subidang Bendung atau Bendungan
3.5
semen
hasil industri dari paduan bahan baku: batu kapur sebagai bahan utama, lempung , dan
gipsum atau bahan pengganti lainnya dengan hasil akhir berbentuk bubuk, tanpa memandang
proses pembuatannya, yang mengeras atau membatu pada pencampuran dengan air
3.6
semen tanah
jenis bahan konstruksi dari campuran semen, tanah, dan air, dengan perbandingan tertentu
3.7
tanah
material yang terdiri dari butiran kasar maupun halus serta mineral-mineral padat yang tidak
terikat secara kimia satu sama lain, zat cair, dan gas yang mengisi ruang-ruang kosong
diantara butiran mineral-mineral padat tersebut
4 Ketentuan dan persyaratan
4.1
Ketentuan
4.1.1 Ketentuan penggunaan
a) Penggunaan
semen
tanah
sebagai
komponen
utama
bangunan
Sabo
harus
mempertimbangkan ketersediaan material yang memenuhi syarat di lokasi, keselamatan
pekerja terhadap kemungkinan jatuhnya bebatuan akibat getaran, dan kelayakan
pembiayaan pelaksanaan pekerjaan.
b) Semen tanah pada bangunan Sabo pada dasarnya diterapkan pada bagian tubuh
bangunan yang tidak secara langsung dan terus menerus menerima gaya impak dari
aliran lahar atau aliran debris.
www.djpp.depkumham.go.id
c) Sisi luar bangunan Sabo harus dilapisi dengan material pelindung (seperti beton, beton
bertulang, dsb.) untuk mencegah abrasi dan pukulan aliran debris.
d) Dalam mendesain konstruksi bangunan Sabo harus memperhatikan SNI 2851 dan SNI
1724.
4.1.2 Ketentuan pengendalian
a) Proses pengendalian pelaksanaan
Pelaksanaan pembangunan bangunan Sabo dengan menggunakan bahan semen tanah
harus dilakukan dengan seksama di bawah koordinasi konsultan pengawas.
b) Pengendalian bahan utama
Jumlah dan karakteristik bahan yang digunakan dalam campuran semen tanah di
lapangan harus sesuai dengan spesifikasi.
c) Pengendalian kualitas
Kualitas bangunan yang dibuat dari semen tanah minimal harus sama dengan spesifikasi.
d) Pengendalian kemajuan pekerjaan
Harus diplot kemajuan pekerjaan yang berorientasi pada sumber daya yang digunakan.
4.1.3 Ketentuan dokumentasi dan laporan
Kondisi pelaksanaan pekerjaan di lapangan harus didokumentasikan secara periodik dan
disimpan dengan baik.
Kegiatan yang harus didokumentasikan antara lain kegiatan manajemen keselamatan,
penggunaan material, metode pelaksanaan, kejadian-kejadian khusus yang terjadi saat
pelaksanaan, kegiatan pengendalian mutu, pengendalian dampak lingkungan, dan
pemeliharaan bangunan.
Pelaksanaan pembangunan bangunan Sabo secara lebih detail harus dapat dikontrol dengan
adanya laporan harian, mingguan, bulanan, dan laporan kendali kualitas.
4.2
Persyaratan
4.2.1 Persyaratan lokasi
Lokasi bangunan Sabo semen tanah harus pada lokasi yang banyak tersedia material tanah
yang memenuhi syarat untuk mendapat perlakuan sebagai semen tanah.
4.2.2 Persyaratan bahan
4.2.2.1
Tanah
a) Tanah yang dapat digunakan adalah tanah bergradasi kasar dengan gradasi D5 >
0,075 mm.
b) Diameter maksimum partikel adalah setengah dari ketebalan tiap lapisan penghamparan.
4.2.2.2
Semen
Secara umum digunakan semen portland dengan tipe sesuai persyaratan penggunaan pada
SNI 7064.
4.2.2.3
Air
Air diambil dari sekitar area kerja dan harus dipastikan bahwa air yang digunakan tidak
menghalangi reaksi pengerasan semen, yang dibuktikan dengan pengujian laboratorium.
www.djpp.depkumham.go.id
4.2.3 Persyaratan pelaksanaan
4.2.3.1
Unsur pelaksana
Pelaksana/ pengawas pekerjaan bangunan Sabo semen tanah harus dilaksanakan oleh
penyedia jasa yang ahli dan berpengalaman sesuai dengan UU No.18 tahun 1999, PP No.4
tahun 2010, dan Perpres No. 54 tahun 2010.
4.2.3.2
Aspek lingkungan
Pelaksanaan pembangunan bangunan Sabo dengan bahan semen tanah tidak boleh
bertentangan dengan UU No. 32 tahun 2009, Peraturan Menteri PU No.10/PRT/M/2008, dan
harus memperhatikan hal-hal berikut:
a) Pemanfaatan material tanah setempat semaksimal mungkin sesuai kebutuhan.
b) Transportasi material harus meminimalkan timbulnya dampak negatif terhadap
lingkungan (debu diatasi dengan ditutup terpal, dsb.) dan tidak melebihi persyaratan
kelas beban jalan yang ada..
c) Pengambilan material tidak boleh merusak lingkungan dan mengubah arah aliran sungai.
d) Bangunan Sabo tidak boleh memutus rantai kehidupan hulu dan hilir biota sungai
e) Aspek abiotik seperti keseimbangan transpor sedimen bisa terjaga, sehingga material
tidak tertahan di hulu tetapi sebagian bisa tersalur ke hilir.
4.2.3.3
Lokasi dengan kondisi air tanah tinggi
Pada lokasi dengan permukaan air tanah cukup tinggi, harus disediakan terlebih dahulu lantai
kerja yang dapat dibuat dari beton cyclop setebal kurang lebih 30 cm yang dilengkapi dengan
sistem dewatering.
4.2.3.4
Keamanan pengerjaan
Pelaksanaan pembangunan bangunan Sabo dengan bahan semen tanah tidak boleh
bertentangan dengan UU No.13 tahun 2003, Permen Menakertrans No. PER-01/MEN/1980,
Surat Keputusan Bersama Men PU dan Menakertrans No. Kep. 174/MEN/1986-
104/KPTS/1986, Permen PU No.09/PER/M/2008, dan Kepmen
Kimpraswil
No.
384/KPTS/M/2004, serta harus memperhatikan hal-hal berikut:
a) Pembangunan bangunan Sabo dengan bahan semen tanah harus dilaksanakan dan
diamankan dengan bendung pengelak.
b) Keselamatan pekerja diamankan dengan sistem peringatan dini yang memadai (contoh:
radio komunikasi, pemantau, dsb.).
c) Pada lokasi disediakan tangga darurat untuk menyelamatkan diri (jalur evakuasi) yang
harus disesuaikan dengan karakteristik masing-masing lokasi.
4.2.3.5
Persyaratan uji campuran
Persamaan berikut harus digunakan dalam menentukan kuat tekan campuran semen tanah
yang akan digunakan.
a) Kuat tekan maksimum
Kuat tekan maksimum dihitung dengan rumus berikut.
σmax=(1+n2) x σ2
(1)
Keterangan:
σmax adalah kuat tekan maksimum stabilitas bangunan (N/mm2)
n
adalah komponen horisontal kemiringan dam sisi hilir bangunan Sabo (n=0,2),
1(v):n(h)
σ2
adalah tegangan normal kaki bangunan Sabo dari hasil analisis stabilitas (N/mm2)
www.djpp.depkumham.go.id
b) Kuat tekan yang diperlukan (berubah menjadi a) bila judul diganti trial mix)
Kuat tekan yang dibutuhkan didapat dengan menggunakan persamaan berikut:
σd ≥ σmax x SF
(2)
Keterangan:
σd adalah kuat tekan yang dibutuhkan (N/mm2)
σmax adalah kuat tekan maksimum stabilitas bangunan (N/mm2)
SF adalah faktor keamanan
Persyaratan kuat tekan rencana campuran semen tanah pada setiap bagian struktur bangunan
Sabo, harus memenuhi persyaratan Tabel B.2. Faktor keamanan dalam penghitungan kuat
tekan yang dibutuhkan minimal 4 (empat).
c) Kuat tekan campuran semen tanah
Kuat tekan campuran diperoleh dari persamaan berikut:
σmix ≥ σd x ke
(3)
Keterangan:
σmix adalah kuat tekan campuran semen tanah (N/mm2)
σd adalah kuat tekan yang dibutuhkan (N/mm2)
ke adalah koefisien ekstra
Koefisien ekstra dalam penghitungan kuat tekan campuran semen tanah minimum 1,5.
d) Volume semen dalam campuran (trial mix)
Penggunaan semen dalam campuran semen tanah harus ditentukan berdasarkan hasil
pengujian di laboratorium maupun pengujian pelaksanaan di lapangan untuk mencapai
spesifikasi karakteristik yang disyaratkan.
Persamaan berikut harus digunakan dalam menghitung volume semen dalam campuran
adalah:
i.
Berdasarkan hasil dari uji tekan dari minimal tiga benda uji campuran semen tanah
dengan variasi kadar semen tertentu, diperoleh persamaan:
f(σm ) = a.C + b
(4)
Keterangan:
f(σm )
adalah fungsi dari kuat tekan (N/mm2)
C
adalah berat semen dalam campuran (N tiap m3 campuran)
a
adalah kemiringan grafik jumlah semen versus kuat tekan campuran
b
adalah kuat tekan campuran dengan jumlah semen nol (N/mm2)
Penentuan koefisien a dan b harus didasarkan pada hasil uji tekan yang dianalisis regresi
(lihat contoh Gambar C.4, Gambar C.5, Gambar C.6).
ii. Volume semen yang dibutuhkan untuk menghasilkan campuran dengan kuat tekan sesuai
persamaan (3), dihitung dengan persamaan berikut:
(
)
a
b
C
mix
mix
−
= σ
(5)
Keterangan:
mix
C
adalah berat semen dalam campuran (N tiap m3 campuran)
mix
σ
adalah kuat tekan campuran (persamaan 3) (N/mm2)
www.djpp.depkumham.go.id
4.2.3.6
Persyaratan pencampuran semen tanah
Pencampuran semen tanah harus dilakukan dengan ekskavator pada bak pencampur dari baja
dengan tebal yang cukup kuat (minimal 8 mm) dan ukuran bak yang memperhatikan
jangkauan ekskavator (secara empiris diambil 1,85 m x 4 m).
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mencampur semen tanah antara lain:
Lakukan pencampuran dengan sistem kering. Setiap proses pengangkutan campuran,
penghamparan, dan pemadatan semen tanah harus sudah diselesaikan dalam waktu 1 jam
sampai 1,5 jam setelah pencampuran.
4.2.3.7
Persyaratan penghamparan campuran
a) Penghamparan dan pemadatan semen tanah terhadap lapisan semen tanah berikutnya
lebih dari 36 jam.
b) Antar lapisan semen tanah satu dengan lapisan berikutnya diberikan sambungan vertikal
(penaburan semen dengan sedikit air).
c) Jika terjadi hujan pada saat penghamparan, maka pekerjaan harus dihentikan, hamparan
harus ditutup menggunakan pelindung kedap air.
d) Ketebalan dan volume penghamparan mengacu pada spesifikasi alat pemadat yang
digunakan atau aturan pada Gambar B.2.
e) Untuk mendapatkan pemadatan yang cukup pada bagian tepi atau bagian lereng tanggul,
maka tambah dimensi hamparan ke arah lereng sebesar 1 horisontal : 1,5 vertikal
penampang melintang rencana.
4.2.3.8
Persyaratan pemadatan campuran
a) Alat pemadat yang digunakan adalah vibro roller 6 ton - 10 ton dan dipilih berdasarkan
nilai perancangan rapat massa yang ingin dicapai.
b) Jumlah lintasan pemadatan harus diperoleh berdasarkan hasil percobaan dari alat yang
akan digunakan.
c) Untuk memadatkan pada bagian dengan lebar area kurang dari 1 m harus diunakan
stamper rammer (secara empiris dengan berat 80 kg) atau alat pemadat lain yang setara.
4.2.3.9
Persyaratan perawatan campuran
a) Setelah pemadatan harus dilakukan perawatan semen tanah sesuai SNI 6798.
b) Untuk mengurangi kembang susut akibat hujan dan panas matahari, campuran yang telah
dipadatkan harus dijaga kelembapannya, misal dengan ditutup karung goni basah
sekurang-kurangnya selama 36 jam.
4.2.3.10 Persyaratan pengendalian mutu
a) Pengendalian mutu pemadatan material semen tanah harus mengacu pada Permen PU
No.04/PRT/2009, SNI 19-19001-2001, SNI 19-19001-2003, SNI 19-9000-2005, Kepmen
Menakertrans No.KEP.69/MEN/5/2004, serta harus dilaksanakan dengan memperhatikan
hal – hal sebagai berikut:
i.
Jumlah benda uji
Setiap pengujian kepadatan lapangan menggunakan benda uji sekurang – kurangnya tiga
buah.
ii. Kepadatan
Pengujian kepadatan lapangan untuk mengetahui berat isi kering dan kadar air lapangan
setelah pemadatan tanah, harus dilaksanakan satu kali untuk tiap 100 m3 dan dilakukan
tiap lapis jika volume semen tanah tiap lapis kurang dari 100 m3. Digunakan SNI 2828
dan SNI 2832 sebagai acuan dalam pengujian pemadatan semen tanah.
www.djpp.depkumham.go.id
iii. Kuat tekan
Pengujian kuat tekan semen tanah harus dilaksanakan minimal satu kali setiap 100 m3
dan lakukan tiap lapis jika volume semen tanah tiap lapis kurang dari 100 m3. Kuat tekan
minimum campuran semen tanah dari masing-masing benda uji di lapangan harus tetap
lebih besar dari kuat tekan yang dibutuhkan (σd).
iv. Homogenitas campuran
Pengujian homogenitas campuran setelah dipadatkan harus dilakukan sekurang –
kurangnya dua kali sehari dengan menggunakan cairan phenolphthalein, berdasarkan
SNI 6791.
v.
Kadar air dan berat isi campuran semen tanah
Kadar air dan berat isi campuran semen tanah di lapangan harus sesuai dengan hasil
pengujian laboratorium yang diuji menggunakan SNI 1965 dan SNI 1964.
b) Persyaratan kualitas mutu konstruksi
Evaluasi hasil pengujian harus dilakukan dengan pertimbangan bahwa nilai-nilai yang
dihasilkan dari pengujian/pengetesan hasil pelaksanaan di lapangan tidak boleh lebih
kecil dari yang telah ditentukan pada rancangan, dan mengacu pada pada Permen PU
No.04/PRT/2009.
4.2.4 Tahapan kegiatan pelaksanaan
Tahapan kegiatan pelaksanaan penggunaan semen tanah sebagai komponen utama bangunan
Sabo meliputi:
a)
Persiapan
b) Pengecekan kondisi lapangan
c)
Pengujian desain campuran
d) Perancangan uji campuran
e)
Pengujian pemadatan lapangan
f)
Pelaksanaan pembangunan
5 Cara pengerjaan
Cara pengerjaan penggunaan semen tanah sebagai komponen utama bangunan Sabo
dilaksanakan dengan tahapan pelaksanaan yang meliputi : persiapan, pengecekan kondisi
lapangan, pengujian desain campuran, perancangan uji campuran, pengujian pemadatan
lapangan dan pelaksanaan pembangunan.
5.1
Persiapan
5.1.1 Pelaksanaan perancangan awal
Lakukan perancangan awal bangunan Sabo sesuai persyaratan subpasal 4.1.1.d).
5.1.2 Perkiraan ketersediaan material tanah di lokasi
a) Lakukan penghitungan ketersediaan material tanah yang akan digunakan untuk
campuran semen tanah dalam satuan volume (m3).
b) Persiapkan lokasi yang akan dijadikan sumber material tambahan apabila volume tanah
pada butir a) tidak tercukupi.
5.1.3 Penentuan bagian bangunan Sabo yang sesuai untuk penggunaan semen tanah
Lakukan pemeriksaan terhadap bagian dari bangunan Sabo yang akan dibangun dengan
bahan semen tanah sesuai dengan subpasal 4.1.1.
www.djpp.depkumham.go.id
5.1.4 Penentuan kuat tekan campuran semen tanah
a) Hitung kuat tekan maksimum dengan rumus (1) pada subpasal 4.2.3.5.a).
b) Tentukan kuat tekan yang diperlukan berdasarkan rumus (2) pada subpasal 4.2.3.5.b) dan
kuat tekan rencana yang ditunjukkan dalam Tabel B.2.
c) Tentukan kuat tekan campuran semen tanah dengan rumus (3) pada subpasal 4.2.3.5.c).
5.2
Pengecekan kondisi lapangan
a) Lakukan pengecekan kondisi lapangan untuk mengetahui kondisi lapangan, kemampuan
kerja, dan kemampuan transportasi guna menentukan metode pelaksanaan pekerjaan,
macam dan tipe peralatan yang harus digunakan, sesuai sub pasal 4.2.1, subpasal 4.2.3.1,
subpasal 4.2.3.2, serta Tabel B.1.
b) Lakukan penyelidikan secara visual terhadap karakteristik material tanah di lokasi sesuai
subpasal 4.2.2.1.
5.3
Pengujian desain campuran
5.3.1 Pengujian material tanah
Lakukan tahapan berikut untuk pemeriksaan karakteristik material tanah berikut:
a) Persiapkan benda uji sesuai SNI 1975.
b) Lakukan pengujian gradasi terhadap material tanah sesuai SNI 1968.
c) Timbang berat material yang akan dijadikan bahan material semen tanah untuk
mendapatkan nilai berat isi material semen tanah sesuai dengan SNI 1964.
d) Lakukan pengujian kadar air terhadap material tanah untuk menentukan kandungan air
dalam tanah sesuai SNI 1965.1.
e) Lakukan pengujian faktor pemadatan untuk menentukan kandungan air optimum dalam
tanah guna mencapai pemadatan maksimum sesuai dengan SNI 2828 dan SNI 2832.
5.3.2 Pengujian campuran semen tanah
5.3.2.1 Perencanaan dan pelaksanaan pengujian campuran semen tanah
a) Tentukan kadar air pada campuran semen tanah berdasarkan hasil pengujian kadar air
material tanah sesuai SNI 1965.
b) Pilih kondisi material semen tanah dengan kadar air yang memungkinkan dicapainya
kualitas pemadatan maksimum.
c) Buat benda pengujian dengan variasi pada jumlah semen dalam campuran semen tanah.
Minimal dipersiapkan tiga variabel uji yang memiliki kadar semen berbeda, yaitu 100
kg/m3, 150 kg/m3, dan 200 kg/m3.
d) Cek karakteristik gradasi material yang digunakan sebagai bahan campuran semen tanah
uji, sesuaikan dengan kuat tekan yang direncanakan. Jika kurang memenuhi kuat tekan
yang direncanakan, maka jumlah benda uji kuat tekan harus ditambah satu benda uji
dengan kadar semen 250 kg/m3.
e) Lakukan pengujian pemadatan untuk menentukan kadar air optimum setiap campuran
semen tanah sesuai SNI 2828.
f)
Lakukan pengujian kuat tekan campuran pada butir c) untuk mengetahui jumlah semen
yang diharuskan dalam mencapai kuat tekan campuran semen tanah sesuai SNI 6798.
g) Buat grafik kuat tekan versus jumlah semen sebagai bahan pertimbangan untuk
menentukan jumlah semen dalam campuran semen tanah yang memenuhi persyaratan
kuat tekan (lihat contoh Gambar C.4, Gambar C.5, Gambar C.6).
5.3.2.2 Penentuan rancangan campuran semen tanah
a) Tentukan berat isi campuran dengan menggunakan prosedur SNI 1964. Nilai berat isi
campuran berpengaruh terhadap perhitungan stabilitas bangunan Sabo.
www.djpp.depkumham.go.id
b) Tentukan kadar air optimum desain untuk mencapai kepadatan maksimum pada
pelaksanaan pencampuran semen tanah di lapangan nantinya.
c) Analisis hubungan antara kadar semen dan kuat tekan dengan mengacu grafik hubungan
antara kadar semen dalam campuran dan kuat tekan campuran.
d) Tentukan kadar semen dalam campuran dari grafik pada butir c) agar mencapai kuat
tekan campuran semen tanah untuk bangunan Sabo.
5.4
Perancangan uji campuran
5.4.1 Pemeriksaan stabilitas konstruksi
a) Periksa kembali stabilitas bangunan Sabo menurut SNI 2851 dengan mempertimbangkan
nilai berat isi hasil uji campuran di lapangan. Lakukan penyesuaian desain campuran
berdasarkan pemeriksaan tersebut.
b) Bentuk bangunan Sabo harus mempertimbangkan kondisi lapisan semen tanah sebelum
dan sesudah dipadatkan (lihat Gambar B.2).
5.4.2 Pemeriksaan bentuk bangunan
Lakukan desain ulang bentuk bangunan Sabo jika struktur bangunan tidak stabil sesuai SNI
2851 dan SNI 1724.
5.4.3 Penyelesaian rancangan kerja secara mendetail
Selesaikan rancangan kerja secara mendetail kemudian dirangkum secara sistematis. Buat
hasil resume tersebut dalam bentuk laporan dan gunakan sebagai pegangan dalam
melaksanakan tahap selanjutnya.
5.5
Pengujian pemadatan lapangan
5.5.1
Perencanaan pengujian pemadatan di lapangan
Lakukan perencanaan pengujian pemadatan di lapangan sebelum tahap pelaksanaan
pembangunan bangunan Sabo. Kondisi saat dilaksanakan pengujian pemadatan harus dapat
mewakili kondisi sebenarnya sesuai SNI 2851.
5.5.2
Pelaksanaan pengambilan sampel bahan dan pengujian lapangan
a) Penyiapan bahan uji
Ambil bahan uji dari lapangan untuk kontrol kualitas. Jumlah dan frekuensi pengambilan
sampel di lapangan disesuaikan dengan Tabel B.3.
b) Analisis saringan pada lokasi
Lakukan pengujian analisis saringan bahan lapangan sesuai dengan SNI 1968.
c) Lakukan tes laboratorium dan analisis
Lakukan uji berat isi material tanah (sesuai SNI 1964), berat permukaan kering
(Saturated Surface Dry), ukuran butiran, kadar air, dan faktor pemadatan (sesuai SNI
2828 dan SNI 2832).
5.5.3
Penentuan kondisi awal konstruksi
Tentukan kondisi awal konstruksi yang meliputi tahapan berikut ini:
a)
Gunakan mesin/ peralatan berat sebagaimana Tabel B.1.
b)
Tentukan ukuran besarnya butiran material tanah berdasarkan spesifikasi alat pemadat
yang digunakan dengan mempertimbangkan contoh pada Tabel C.4.
c)
Tentukan area konstruksi.
d)
Tentukan parameter-parameter proses konstruksi seperti: waktu untuk pencampuran,
ketebalan lapisan yang akan dipadatkan, intensitas pemadatan, pengukuran volume
bahan dan lokasi.
www.djpp.depkumham.go.id
5.5.4
Pelaksanaan uji coba pemadatan di lapangan
a) Laksanakan pengujian pemadatan di lapangan sesuai kesepakatan oleh pelaksana setelah
disetujui pengawas pekerjaan.
b) Periksa kondisi material utama dalam hal kadar air dan ukuran butiran.
Gunakan sand cone atau metode kerucut pasir. Ukur kadar air di lapangan dengan alat
speedy moisture tester yang menggunakan bubuk karbit sesuai SNI 1965.1.
c) Laksanakan konstruksi percobaan dalam skala tertentu yang dapat mewakili konstruksi
kenyataan di lapangan nantinya.
d) Laksanakan pengukuran pemadatan lapangan untuk mengetahui banyaknya lintasan alat
pemadat yang diharuskan untuk mencapai nilai kepadatan, kuat tekan, dan permeabilitas
lapisan semen tanah yang disyaratkan, pada kondisi tebal lapisan semen tanah rencana
dan jenis alat pemadat yang akan digunakan.
e) Lakukan pengukuran terhadap tebal lapisan setelah pemadatan, intensitas pemadatan,
ketebalan lapisan setelah dipadatkan, kepadatan di lapangan dan kadar air dari lapisan –
lapisan semen tanah (sesuai SNI 1965.1) yang dibangun.
f)
Lakukan pengambilan sampel inti setelah seluruh lapisan semen tanah selesai dikerjakan
untuk diuji kesesuaian pengerjaan dengan spesifikasi teknik sesuai SNI 2492.
5.5.5
Pengujian laboratorium untuk benda uji konstruksi percobaan
Lakukan tes laboratorium kembali terhadap benda uji konstruksi percobaan yang kemudian
hasilnya dibandingkan dengan rancangan pada subpasal 5.4.3.
5.6
Pelaksanaan pembangunan
5.6.1 Perencanaan pelaksanaan pekerjaan
Lakukan tahapan pelaksanaan pekerjaan sebagai berikut:
a) Periksa dan rekap hasil percobaan konstruksi.
b) Periksa karakteristik campuran apakah sesuai yang direncanakan.
c) Rencanakan proses pelaksanaan dan tahapan-tahapan yang akan dilakukan pada saat
pelaksanaan pembangunan (waktu pencampuran, kepadatan dan tebal lapisan semen
tanah, jumlah dan karakteristik pemadatan, ketebalan lapisan pasca pemadatan,
pengukuran bahan dan lokasi pelaksanaan pembangunan).
5.6.2 Pengumpulan material
Lakukan Pengumpulan material dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a) Bersihkan lahan.
b) Pilah batuan besar (cobbles) dengan menggunakan saringan (grizzly bar) berdasarkan
hasil analisis saringan butiran.
c) Angkut dan timbun di lokasi yang sedekat mungkin dengan tempat pencampuran, dan
ratakan menjadi lapis demi lapis, material yang tersaring diangkut dan ditimbun.
5.6.3 Pencampuran
a) Lakukan pencampuran material tanah dengan semen pada bak pencampur menggunakan
ekskavator hingga homogen.
b) Material tanah dan semen dituang dalam bak pencampur secara bertahap, sambil diaduk
menggunakan ekskavator.
c) Setelah campuran homogen, tambahkan air secara bertahap sesuai dengan jumlah air
yang diperlukan, sambil aduk menggunakan ekskavator.
www.djpp.depkumham.go.id
5.6.4 Pengangkutan campuran semen tanah
Angkut campuran semen tanah ke lokasi penghamparan sesuai dengan persyaratan pada
subpasal 4.1.1.a) dan aspek lingkungan subpasal 4.2.3.2.b).
5.6.5 Penghamparan
a) Lakukan penghamparan semen tanah menggunakan buldoser atau grader dan/ atau
tenaga manusia.
b) Lakukan penanganan sambungan vertikal antar lapisan semen tanah sesuai dengan
subpasal 4.2.3.7.
c) Hamparkan lapis semen tanah berikutnya menggunakan buldoser atau ekskavator dan/
atau tenaga manusia.
5.6.6 Pemadatan
Laksanakan pemadatan material semen tanah sesuai dengan persyaratan subpasal 4.2.3.8.
5.6.7 Perawatan
Laksanakan perawatan terhadap campuran semen tanah sesuai persyaratan pada subpasal
4.2.3.9.
5.6.8 Pengendalian pelaksanaan pekerjaan
a) Lakukan evaluasi terhadap hasil pengujian.
b) Lakukan proses pengendalian pelaksanaan pekerjaan yang meliputi pengawasan proses
konstruksi, pengendalian bahan utama, kualitas pekerjaan, dan kemajuan pelaksanaan
pekerjaan, sesuai ketentuan pada subpasal 4.1.2.
5.6.9 Dokumentasi dan laporan
Susun dokumentasi dan sistem laporan pelaksanaan pekerjaan penggunaan semen tanah
sebagai komponen bangunan Sabo sesuai ketentuan subpasal 4.1.3.
www.djpp.depkumham.go.id
Lampiran A
Bagan alir
(normatif)
Gambar A.1 Bagan Alir penggunaan semen tanah sebagai komponen utama bangunan
Sabo
Mulai
Persiapan
1. Perancangan awal bangunan Sabo
2. Perkiraan ketersediaan material tanah di lokasi
3. Penentuan bagian bangunan sabo yang sesuai untuk penggunaan semen tanah
4. Penentuan kuat tekan campuran semen tanah
Pengecekan Kondisi Lapangan
1.
Kondisi lapangan
2.
Kemampuan kerja
3.
Kemampuan transportasi
4.
Tipe peralatan yang digunakan
5.
Karakteristik material tanah di lokasi
Pengujian Desain Campuran (Tabel C.1)
1.
Lakukan pemeriksaan karakteristik material tanah yang akan digunakan
2.
Lakukan pengujian material tanah
3.
Lakukan perencanaan pengujian campuran semen tanah
4.
Lakukan pengujian campuran semen tanah
5.
Tentukan rancangan campuran semen tanah
Perancangan Uji Campuran
1.
Lakukan pemeriksaan stabilitas konstruksi
2.
Lakukan pemeriksaan kembali bentuk bangunan
3.
Tentukan rancangan kerja secara detail
Pengujian Pemadatan Lapangan
1.
Lakukan perencanaan pengujian pemadatan di lapangan
2.
Laksanakan pengambilan sampel bahan dan pengujian lapangan
3.
Tentukan kondisi awal
4.
Laksanakan pengujian pemadatan di lapangan
5.
Lakukan pengujian laboratorium hasil pengujian pemadatan di lapangan
Pelaksanaan Pembangunan
1.
Lakukan perencanaan pelaksanaan pekerjaan
a. Periksa hasil percobaan pemadatan lapangan
b. Tentukan komposisi campuran
c. Rencanakan proses pelaksanaan
2.
Laksanakan pekerjaan (Gambar B.1)
3.
Lakukan pengendalian pelaksanaan pekerjaan
4.
Buat dokumentasi dan pelaporan
Selesai
www.djpp.depkumham.go.id
Lampiran B
Tabel dan gambar
(normatif)
Tabel B.1 Kebutuhan alat dalam pelaksanaan penggunaan semen tanah
sebagai komponen utama bangunan Sabo
Uraian Pekerjaan
Alat yang Digunakan
(1)
Pengumpulan tanah dan
pembuangan batuan besar
a.
b.
c.
Ekskavator
Ekskavator dengan
Skeleton bucket
Grizzly bar
(2)
Pemindahan tanah dari sumber
material ke depo material
a.
b.
c.
Dump truck
Crawler dump truck
Ekskavator
(3)
Penghamparan tanah lapis demi
lapis di depo material
a.
b.
Batcher plant
Grider atau Buldoser
(4)
Pengiriman tanah dari tempat
penghamparan ke tempat
pencampuran
a.
b.
c.
Dump truck
Crawler dump truck
Ekskavator
(5)
Pencampuran semen, tanah, dan
air
Ekskavator
(6)
Pemindahan campuran semen
tanah dari tempat pencampuran ke
lokasi pembangunan
a.
b.
c.
Dump truck
Crawler dump truck
Ekskavator
(7)
Penanganan sambungan
konstruksi (vertikal) antar lapisan
semen tanah
a.
b.
Penabur semen kering
Selang penyemprot air
Pembongkaran (unloading) semen
tanah dan penghamparan
a.
b.
Buldoser
Ekskavator
Pemadatan
a.
b.
c.
Vibrating roller
Hand-guide type vibrating
roller
Vibrating tamper
(8)
Pelaksanaan lapisan perawatan
(curing) semen tanah
a.
b.
c.
Lapisan Curing + Alas
Curing,
Selang penyemprot air
Peralatan curing seperti
pada beton
www.djpp.depkumham.go.id
Tabel B.2 Kuat tekan rencana masing-masing bagian struktur Bangunan Sabo
Level
Kuat Tekan
Rencana
Bangunan Sabo
Penggunaan
I
0,5 - 1,5 N/mm2
(5-15 kg/cm2)
Bantalan
Pekerjaan lereng bukit
Pekerjaan perkuatan
tanah tebing
Material pengisi
Pekerjaan pengisi pada
kanalisissi
Pekerjaan pengisian
II
1,5 - 3 N/mm2
(15-30 kg/cm2)
Bangunan Sabo dan
lantai lindung
Bagian dalam, sebagai material
pengisi
Fasilitas tambahan
(jalan inspeksi, dan
lain-lain)
Pekerjaan pengisi
untuk dam
Pekerjaan pencegahan
rembesan
Pekerjaan fondasi
Struktur fondasi dengan
kapasitas tahanan yang
diizinkan: ≥ 500 kN/m2
III
3 - 6 N/mm2
(30-60 kg/cm2)
Bangunan Sabo dan
lantai lindung
Bagian luar, yakni bagian
dengan kemiringan lereng yang
mulus dan bebas dari gaya
impak aliran debris
Bagian dalam struktur yang
sedikit dipengaruhi faktor cuaca
atau bagian dalam struktur
dengan lapisan pelindung
tambahan.
Pekerjaan perkuatan
tebing
Bagian dalam struktur
Tanggul pengarah
(training levee)
Tanggul kendali
(training dike)
Kantong sedimen (sand
pocket)
Bagian dalam yang tidak secara
terus menerus terkena erosi dan
bagian yang sepertinya tidak
menanggung aksi dari aliran
debris
IV
6 - 18 N/mm2
(60-180 kg/cm2)
Bangunan Sabo dan
lantai lindung
Bagian luar yang tidak
dipengaruhi faktor cuaca yang
ekstrim dan bagian yang tidak
www.djpp.depkumham.go.id
Level
Kuat Tekan
Rencana
Bangunan Sabo
Penggunaan
dipengaruhi gaya impak dari
aliran debris
V
18 - 21 N/mm2
(180-210
kg/cm2)
Bangunan Sabo dan
lantai lindung
Bagian sayap yang menanggung
aliran lahar yang telah
terantisipasi secara berkala
Bagian luar yang menerima aksi
cuaca yang ekstrim dan yang
menanggung aksi dari aliran
lahar
Pekerjaan perkuatan
tebing
Bagian luar yang menanggung
aksi erosi
VI
≥ 21 N/mm2
(≥ 210 kg/cm2)
Bangunan Sabo dan
lantai lindung
Mercu peluap, yakni bagian
yang secara penuh menanggung
aksi erosi dan abrasi
Keterangan:
•
Tabel B.2 dapat digunakan untuk bangunan Sabo dengan tinggi kurang dari 15 m,
serta dinding penahan dan perkuatan tebing lebih rendah dari 8 m.
•
Untuk bangunan Sabo yang lebih tinggi dari 15 m, serta dinding penahan dan
perkuatan tebing lebih tinggi dari 8 m, maka kuat tekan rencana harus ditetapkan
dengan mempertimbangkan gaya-gaya luar akibat gempa dan tegangan tekan
maksimum dihitung sesuai peraturan yang berlaku.
www.djpp.depkumham.go.id
1.a Pengumpulan tanah dan pembuangan batuan besar (disaring di atas dumptruck).
1.b Pemindahan tanah dari sumber material ke tempat penghamparan sementara (depo
material)
1.c Penghamparan tanah lapis demi lapis di depo material
1.d Pengiriman tanah dari depo material ke tempat pencampuran
2. Pencampuran semen, tanah, dan air
Gambar B.1 Langkah penggunaan semen tanah sebagai
komponen utama bangunan Sabo
Tanah
Semen
Depo material
Area pencampuran
Sumber material
(Quarry)
Depo material
Bak pencampur
www.djpp.depkumham.go.id
3. Pemindahan campuran semen tanah dari tempat pencampuran ke lokasi pembangunan.
4. Pekerjaan penanganan sambungan vertikal (pemberian semen & sedikit air) antar
lapisan semen tanah, perataan, dan pemadatan.
5. Perawatan (curing) lapisan semen tanah
Gambar B.1 (lanjutan) Langkah penggunaan semen tanah sebagai
komponen utama bangunan Sabo
Penumpukan
Penghamparan
Pemadatan
Area
pembangunan
Area pencampuran
Perawatan (curing) semen tanah
Lembar curing
Contoh:
Ditutup dengan karung
goni basah
Sambungan vertikal
www.djpp.depkumham.go.id
Gambar B.2 Skema contoh pemadatan lapisan Bangunan Sabo semen tanah
contoh: 30 cm
tebal akhir
(setelah
dipadatkan)
contoh: 35 cm –
40 cm
tebal awal
(sebelum
dipadatkan)
Semen Tanah
semen tanah
kemiringan tubuh Bangunan
lantai kerja
selimut beton
contoh: 30 cm
(Contoh)
www.djpp.depkumham.go.id
Tabel B.3 Periode pengujian untuk pengendalian
mutu campuran semen tanah
Jenis Pengujian
Frekuensi
Keterangan
Material
Tanah
Analisis saringan (grain size)
Minimal 1 kali
tiap 500 m³
Kepadatan dan daya resap air
Minimal 1 kali
tiap 500 m³
(>95% hasil
laboratorium)
Kadar air
2 kali /hari
Pagi dan sore
Campuran
Semen tanah
Kepadatan lapangan
1 kali /100m3
Atau lakukan tiap lapis
jika volume semen
tanah tiap lapis kurang
dari 100 m3
Kuat tekan bebas (unconfined
compresion strength)
1 kali /100m3
Atau lakukan tiap lapis
jika volume semen
tanah tiap lapis kurang
dari 100 m3
Homogenitas campuran
(menggunakan phenol
phthalein)
2 kali /hari
Pengamatan visual
(tidak muncul warna
biru)
www.djpp.depkumham.go.id
Tabel B.4 Sasaran masing-masing tahapan kegiatan penggunaan semen tanah sebagai
komponen utama bangunan Sabo
No Macam kegiatan
Sasaran
Pengambilan sampel
Menentukan titik pengambilan sampel dengan sekurang-
kurangnya tiga titik pengambilan. Untuk setiap titik
diambil dua sampel.
Analisis saringan di
lapangan
Mengetahui butiran yang lolos dari saringan 150 mm
Analisis saringan
Mendapatkan partikel diameter 0,075 mm – 150 mm
Pengujian rapat massa
dan daya serap air
(density and water
absorbtion test)
Mendapatkan rapat massa (γs), dan sifat-sifat dari setiap
benda uji
Pengujian kadar air
(water content test)
Mengetahui kadar air dari tanah (w)
Pengujian pemadatan
Mengetahui rapat massa maksimum, kadar air optimum,
dan standar rapat massa tanah
Berat Isi
Mengetahui berat isi semen (γ) untuk perancangan
campuran
Pengujian kuat tekan
Mengetahui kuat tekan bahan/ campuran
Pengujian permeabilitas
Mengetahui koefisien rembesan (ke)
www.djpp.depkumham.go.id
Lampiran C
Contoh perhitungan
(informatif)
Hasil Pengujian tanah yang akan digunakan dalam campuran tertera dalam Tabel C.1 berikut:
Tabel C.1
Parameter uji dari material tanah
Parameter
Pengujian
Jumlah
sampel
Keterangan
1. Pengujian lapangan dan pengujian laboratorium material tanah
(1) Pengujian lapangan terhadap material tanah
a. Analisis
saringan
Analisis saringan di lapangan
Dmax=300 mm
(2) Pengujian laboratorium material tanah
a. Analisis
saringan
Dicampur dari pengambilan tiga sampel
(4,76~19,1 ;19,1~37,5 ; 37,5~53 mm).
Sampel yang digunakan Dmax=53 mm.
b. Kadar air
c. Rapat
Masa dan
daya resap
air
Dicampur dari pengambilan empat
sampel (Ø <4,76,
4,76~19,1 ;19,1~37,5 ; 37,5~53 mm).
Sampel yang digunakan Dmax=53 mm.
d. Pengujian
pemadatan
Ø 200×h240mm、
1 Sampel diuji dengan kadar air yang
berbeda sebanyak 5 kali.
2. Pengujian laboratorium campuran semen tanah
a. Pengujian
tekan
Ø 150 mm,
Variasi Kadar semen: 3 sampel
Variasi umur : 2 sampel
σ7,σ28
Masing- masing kombinasi kadar semen
dan umur diambil 3 sampel
b. Pengujian
Permeabilitas
Ø 200×h240mm,
Setiap campuran diambil 3 sampel
www.djpp.depkumham.go.id
Perhitungan kuat tekan yang diperlukan dari campuran semen tanah dijelaskan sebagai
berikut:
(1) Kuat tekan maksimum stabilitas bangunan
Digunakan nilai kuat tekan maksimum hasil desain analisis stabilitas sebesar 0,50
N/mm2 (σmax), sehingga kuat tekan yang diperlukan adalah;
Kuat tekan yang diperlukan (σd)= Kuat tekan maksimum stabilitas bangunan (σmax) x
angka aman= 0,50 × 4= 2,0 N/mm2
(2) Kuat tekan yang diperlukan berdasarkan nilai empiris
Walaupun kuat tekan yang diperlukan dari hitungan stabilitas didapatkan 2 N/mm2, kuat
tekan yang diperlukan untuk penggunaan sebagai bagian dalam struktur bangunan Sabo
ditentukan sebesar 3 N/mm2 – 6 N/mm2 (lihat Tabel B.2). Maka diambil nilai 3 N/mm2
sebagai kuat tekan yang diperlukan.
Kuat tekan yang diperlukan : σd = 3 N/mm2
(3) Kuat tekan campuran semen tanah
Kuat tekan campuran semen tanah (σmix) ≥ kuat tekan yang diperlukan (σd) x koefisien
ekstra (ke).
Nilai ke diambil sebesar 1,5, maka kuat tekan campuran semen tanah adalah 4,5 N/mm2.
Kuat tekan campuran semen tanah: σmix = 4,5 N/mm2
Berdasarkan hasil pengujian pendahuluan, campuran semen tanah ditentukan sebagai berikut:
(1) Parameter utama hasil pengujian laboratorium
Kepadatan kering material tanah adalah 95% dari berat isi kering maksimal: γd95 (t/m3)
yang diperoleh dari hasil uji tekan. Kepadatan kering material tanah digunakan untuk
menentukan parameter berikut :
a) Kadar semen dalam campuran: C (N per m3 campuran)
b) Kandungan air pada spesimen: w(%) (w optimum ± 5%)
(2) Penentuan berat isi campuran
Secara umum, Gambar C.1 menunjukkan karakteristik data pemadatan material tanah
berbutir kasar dan berbutir halus yang berbeda dengan karakteristik pemadatan semen
tanah.
Berat isi campuran semen tanah dengan material berbutir halus lebih kecil dibanding
berat total dari semen dan material tanah. Sedangkan berat isi campuran semen tanah
dengan material berbutir kasar relatif setara dengan berat total dari semen dan material
tanah.
www.djpp.depkumham.go.id
Kurva pemadatan untuk setiap tanah uji ditunjukkan oleh Gambar C.2.
a) Kepadatan Kering Maksimal (γ MDD)
γ MDD= 2,09~2,44t/m3 = 20900 ~ 24400N/ m3
(rata-rata: 2,30 t/m3 = 23000N/m3)
b) 95% of Kepadatan Kering Maksimal (γd95)
γd95=1,986~2,318 t/m3 = 19860~23180N/ m3
(rata-rata: 2,18 t/m3 = 21800 N/ m3)
c) Kadar Air (wn)
wn = 2,7~4,7% dari sampel
diambil wn = 4%
wopt = 7,1~8,1% (rata-rata : 7,7 %)
d) Jumlah Semen (C)
Berdasarkan data pengujian campuran, jumlah semen (C) digunakan = 150 kg per m3
(1500N per m3)
e) Berat isi semen tanah awal (γ SC) (kondisi belum dicampur)
- Berat isi kering
: γ = γd95(Ave)+C
= 2,18+0,15
= 2,33 t/m3
= 23300 N/ m3
- Berat isi basah
: γ = γscd×(1+wn)
= 2,33×(1+0,04)
= 2,42 t/m3
= 24200 N/ m3
- Berat isi air
:γw= γd95(Ave) × wn
= 2,18×0,04
= 0,09 t/m3
= 900 N/ m3
f) Berat isi semen tanah akhir (γ SCt) (kondisi setelah dicampur)
Berat isi semen tanah akhir (γ SCt) ditentukan berdasarkan hasil pengujian
laboratorium terhadap sampel seperti yang tersaji pada Tabel C.2.
- Jumlah semen
: C
= 150 kg per m3 = 1500 N/ m3
- Berat isi semen tanah akhir
: γ SCt = 2,38 t/m3 (23800 N/ m3)
(lihat Tabel C.2)
- Berat isi rencana
: γ 0
= γ SCt × 95%
= 2,38 × 0,95
= 2,26 t/m3
= 22600 N/ m3
Harus didapatkan nilai kepadatan sebesar 95% nilai kepadatan laboratorium. Maka
diambil berat isi semen tanah akhir (kondisi setelah dicampur) : γ SCt = 2,20 t/m3=
22000 N/ m3.
www.djpp.depkumham.go.id
1,800
1,900
2,000
2,100
2,200
2,300
2,400
w (%)
base material
C=100kg/m3
C=150kg/m3
C=200kg/m3
C=250kg/m3
γ d(g/cm3)
(Tanah berbutir halus:Ø 0.075 mm ≥ 5%)
(Tanah berbutir kasar Ø 0,075 mm < 5%)
Gambar C.1 Kurva pemadatan sampel tanah
1,800
1,900
2,000
2,100
2,200
2,300
2,400
w (%)
base material
C=100kg/m3
C=150kg/m3
C=200kg/m3
C=250kg/m3
γ d(g/cm3)
www.djpp.depkumham.go.id
Gambar C.2 Kurva pemadatan dari masing-masing lokasi pembangunan semen tanah
Berat isi
www.djpp.depkumham.go.id
Tabel C.2 Berat Isi sampel semen tanah (t/m3) atau kN/m3)
Lokasi
Pembangunan
Berat isi kering sampel
Kadar semen 100 (kg per
m3)
Kadar semen 150 (kg per
m3)
Kadar semen 200 (kg per
m3)
Kisaran
Rerata
Kisaran
Rerata
Kisaran
Rerata
t/m3
kN/m3 t/m
kN/
m3
t/m3
kN/m3 t/m
kN/
m3
t/m3
kN/m3 t/m
kN/
m3
K.Ap
u
Kepadat
an
sampel
umur 7
hari
2,21~2,
22,1~2
2,8
2,2
22,6 2,24~2,
22,4~2
3,8
2,3
23,2 2,32~2,
23,2~2
3,8
2,3
23,4
Kepadat
an
sampel
Umur
28 hari
2,32~2,
23,2~2
3,8
2,3
23,6 2,30~2,
23,0~2
3,5
2,3
23,2 2,35~2,.
23,5~2
4,5
2,4
24,0
K.Puti
h
Kepadat
an
sampel
umur 7
hari
2,41~2,
24,1~2
4,3
2,4
24,2 2,39~2,
23,9~2
4,5
2,4
24,3 2,41~2,
24,1~2
4,2
2,4
24,2
Kepadat
an
sampel
Umur
28 hari
2,39~2,
23,9~2
4,3
2,4
24,2 2,36~2,
23,6~2
4,7
2,4
24,1 2,41~2,
24,1~2
4,7
2,4
24,4
K.Wo
ro
Kepadat
an
sampel
umur 7
hari
2,02~2,
20,2~2
3,0
2,1
21,7 2,34~2,
23,4~2
4,3
2,4
24,0 2,38~2,
23,8~2
4,3
2,4
24,1
Kepadat
an
sampel
Umur
28 hari
2,18~2,
21,8~2
3,5
2,2
22,8 2,36~2,
23,6~2
5,3
2,4
24,2 2,40~2,
24,0~2
8,1
2,5
25,4
Rerata total 2,02~2,
20,2~2
4,3
2,3
23,2 2,24~2,
22,4~2
5,3
2,3
23,8 2,32~2,
23,2~2
8,1
2,4
24,2
www.djpp.depkumham.go.id
(3) Campuran semen tanah
Campuran semen tanah per m3 hasil desain campuran sebagai berikut:
Berat volume campuran maksimum didapat γsct =2,2 t/m3 ( 22 kN/m3) yang terdiri dari:
- Berat campuran semen tanah
: Wsct = 2,20 t (22kN)
- Volume berat semen
: C
= 0,15 t (1,5kN)
- Berat air per m3
: Wopt = 8%,
Ww = Wsct × 0,08
= 0,176 t (1,76 kN)
-
Berat material dalam campuran
: Wm = Wsct – C - Ww
= 2,2 - 0,15 - 0,176
= 1,874 t (18,74 kN)
- Rasio campuran material
( W m : C : Ww = 12,5 : 1 : 1,2 )
Berat material : berat semen : berat air = 12,5 : 1 : 1,2
(4) Penentuan kadar semen dalam campuran
Resume hasil penentuan komposisi semen tanah yang digunakan dapat dilihat pada
Tabel C.3.
Tabel C.3
Komposisi semen tanah yang digunakan
Kuat tekan semen
tanah yang
diperlukan σd
Kuat tekan
campuran
semen tanah
σmix
Jumlah semen
yang digunakan
Berat isi
campuran
semen tanah
yang
diperlukan
Kadar air semen
tanah
σ28(N/mm2)
σ28(N/mm2)
C(N per m3)
γd(kN/m3)
w(%)
3,0
4,5
( 150 kg per m3)
22,0 atau lebih
8,0 ± 1,5
www.djpp.depkumham.go.id
(5) Rentang gradasi material tanah yang digunakan
Distribusi ukuran butiran tanah yang digunakan diperlihatkan pada Gambar C.3.
Gambar C.3 Grafik gradasi butiran dari material tanah yang digunakan
Grain-Size Analysis
0.0
10.0
20.0
30.0
40.0
50.0
60.0
70.0
80.0
90.0
100.0
0.01
0.1
Diameter (mm)
Passage Mass Percentage (%)
Apu-1
Apu-2
Apu-3
Putih-1
Putih-2
Putih-3
Woro-1
Woro-2
Woro-3
Analisis Gradasi
Prosentase Butiran yang Lolos (%)
www.djpp.depkumham.go.id
Tabel C.4 Contoh Data Empiris pelaksanaan penggunaan semen tanah sebagai komponen bangunan Sabo di Daerah Gunung Merapi
Sabo Dam
Vibrating
Roller
Tebal Lapisan
semen tanah
Ukuran maksimum
butiran
Intensitas pemadatan
Kali Woro WO-RD1
Tipe 6 ton
30 cm
15 cm
Tanpa getaran x 1, dengan getaran x 5
Kali Putih PU-RD1-7
Tipe 6 ton
30 cm
10 cm
Tanpa getaran x 1, dengan getaran x 5
Kali Bebeng BE-RD1
Tipe 10 ton
50 cm
(25 cm x 2
tingkat)
10 cm
Contoh 1: Tanpa getaran x 2, dengan getaran x 6
Contoh 2: Tanpa getaran x 2, dengan getaran x 8
Digunakan contoh 2
www.djpp.depkumham.go.id
Umur 7 Hari
Umur 28 Hari
www.djpp.depkumham.go.id
Volume
Data
Volume
Rata-
rata
Semen
σ7
(Apu)
Semen
σ7
(Apu)
(kg/m3)
(N/mm2)
(kg/m3)
(N/mm2)
4,83
4,17
3,75
7,51
3,92
17,93
7,07
7,23
8,24
18,03
17,10
18,67
Volume
Data
Volume
Rata-
rata
Semen
σ28
(Apu)
Semen
σ28
(Apu)
(kg/m3)
(N/mm2)
(kg/m3)
(N/mm2)
9,65
11,01
10,14
14,30
13,26
20,94
12,13
12,78
17,97
18,38
19,41
25,02
www.djpp.depkumham.go.id
Gambar C.4 Hubungan antara jumlah semen dan kuat tekan campuran semen tanah Sungai K.Apu
Umur 7 Hari
Umur 28 Hari
www.djpp.depkumham.go.id
Volume
Data
Volume
Rata-
rata
Semen
σ7
(Putih)
Semen
σ7
(Putih)
(kg/m3)
(N/mm2)
(kg/m3)
(N/mm2)
6,10
7,65
9,65
13,08
7,18
18,42
14,08
11,35
13,80
19,03
18,51
17,74
Volume
Data
Volume
Rata-
rata
Semen
σ28
(Putih)
Semen
σ28
(Putih)
(kg/m3)
(N/mm2)
(kg/m3)
(N/mm2)
8,80
9,75
10,47
18,24
9,99
23,51
17,52
17,30
19,91
25,26
20,04
25,25
Gambar C.5 Hubungan antara jumlah semen dan kuat tekan campuran semen tanah Sungai K.Putih
www.djpp.depkumham.go.id
Umur 7 Hari
Umur 28 Hari
www.djpp.depkumham.go.id
Volume
Data
Volume
Rata-rata
Semen
σ7 (Woro)
Semen
σ7 (Woro)
(kg/m3)
(N/mm2)
(kg/m3)
(N/mm2)
3,11
4,79
3,70
10,90
7,55
18,87
10,59
11,62
10,49
19,59
20,01
17,00
Volume
Data
Volume
Rata-
rata
Semen
σ28
(Woro)
Semen
σ28
(Woro)
(kg/m3)
(N/mm2)
(kg/m3)
(N/mm2)
5,92
7,09
9,79
18,65
5,56
16,81
18,13
17,65
20,16
12,30
14,7
23,44
Gambar C.6 Hubungan antara jumlah semen dan kuat tekan campuran semen tanah Sungai K.Woro
www.djpp.depkumham.go.id
Lampiran D
Daftar nama dan lembaga
(informatif)
1) Pemrakarsa
Balai Sabo, Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air, Badan Penelitian
dan Pengembangan, Kementerian Pekerjaan Umum.
2) Penyusun
N a m a
L e m b a g a
Tim Gugus Kerja Balai Sabo
1. Chandra Hassan
2. Soeryono Haryadi
3. Sadwandharu
4. Sutikno Harjosuwarno
5. Agus Sumaryono
6. Oriza Andamari
7. Suroso
8. Joko Cahyono
9. I Gusti Bagus Suryana
10. Santosa Sandy Putra
Tim BBWS Serayu Opak
1. Imam Mardjianto
2. Sahril
3. Mudjadi
Tim Narasumber
1. Wardhono
2. Adaningkung
Pusat Litbang Sumber Daya Air
Dirjen Sumber Daya Air
www.djpp.depkumham.go.id
Bibliografi
Chandra Hassan, et. all. 1989. Kamus Populer Istilah Pengendalian Erosi, Sedimen, dan
Tanah Longsor. Volcanic Sabo Technical Center, Yogyakarta.
Hardiyatmo, H.C.. 2000. Teknik Fondasi. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Japan Ministry of Construction. 2000. Debris Flow Countermeasure Guideline. Japan
Ministry of Construction, Tokyo.
Japan Ministry of Construction. 2001. In-situ Agitating, Mixing, Solidifying, and Curing (ISM
method) Design and Execution Manual. Japan Ministry of Construction, Tokyo.
Japan Ministry of Construction. 2001. Technical Standart of River and Sabo Engineering.
Japan Ministry of Construction, Tokyo.
JICA. 1980. Master Plan Study for Land Erosion and Volcanic Debris Control in The Area of
Mt. Merapi. JICA, Yogyakarta.
Keizo, Sueyoshi. 2005. Design Report of Kaliadem Bangunan Sabo, Yachio Engineering. Co.
Ltd., Yogyakarta.
Departemen Pekerjaan Umum. 1987. Pedoman Perencanaan Hidrologi dan Hidraulik untuk
Bangunan di Sungai, SKBI-1.3.10.1987. Kementerian Pekerjaan Umum, Jakarta.
Departemen Pekerjaan Umum. 2002. Teknologi Beton. Proyek Pusat Latihan Penanggulangan
Gunung Berapi, Departemen Pekerjaan Umum, Yogyakarta.
Mizuyama, Takahisa. 2001. Utilization Guidelines for Sabo Soil Cement. Kajima Institute,
Tokyo.
Pusat Litbang Sumber Daya Air. 1989. Petunjuk Perancangan Dam Penahan Sedimen. Pusat
Penelitian dan Pengembangan Pengairan, Bandung.
Rochmanhadi. 1982. Kapasitas dan Produksi Alat Berat. Departemen Pekerjaan Umum,
Jakarta.
Rochmanhadi. 1997. Ekonomi Teknik untuk Proyek-Proyek Pengairan. BPKSDM,
Departemen Pekerjaan Umum, Jakarta.
Soekoto, Imam. 2003. Mempersiapkan Lapis Dasar Konstruksi, Jilid I dan 2. Departemen
Pekerjaan Umum, Jakarta.
Soekoto, Imam. 2003. Mengenal Alat dan Peralatan Konstruksi. Departemen Pekerjaan
Umum, Jakarta.
Terzaghi, Karl, dan Ralph B. Peck. 1967. Soil Mechanics in Engineering Practice. John
Wiley & Sons, Inc., New York.
Departemen Pekerjaan Umum. 2008. Kamus Istilah Bidang Pekerjaan Umum Departemen
Pekerjaan Umum, Jakarta.
www.djpp.depkumham.go.id
