(1) Pelunasan cukai dengan cara pembayaran sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf a dilakukan
atas barang kena cukai berupa:
a. MMEA yang dibuat di Indonesia dengan kadar etil
alkohol sampai dengan 5% (lima persen); dan
b. etil alkohol.
(2) Pembayaran cukai MMEA yang dibuat di Indonesia
dengan kadar etil alkohol sampai dengan 5% (lima
persen) atau etil alkohol yang dibuat di Indonesia
dilakukan melalui bank persepsi atau pos persepsi.
(3) Pembayaran cukai etil alkohol yang berasal dari impor
dilakukan melalui bank devisa persepsi atau pos
persepsi.
(4) Pembayaran cukai MMEA yang dibuat di Indonesia
dengan kadar etil alkohol sampai dengan 5% (lima
persen) atau etil alkohol dilakukan dengan membayar
tunai kecuali bagi pengusaha pabrik yang mendapat
kemudahan pembayaran secara berkala.
2009, No.387
2. Ketentuan Pasal 5 diubah dengan menambah 1 (satu) huruf
yakni huruf c, sehingga Pasal 5 berbunyi sebagai berikut:
Peraturan Menteri Nomor 159-pmk-04-2009 Tahun 2009 tentang PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 108/PMK.04/2008 TENTANG PELUNASAN CUKAI
Pasal 4
Pasal 5
Pelunasan cukai dengan cara pelekatan pita cukai
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf b
dilakukan atas barang kena cukai berupa:
a. hasil tembakau;
b. MMEA yang diimpor untuk dipakai dalam daerah
pabean; dan
c. MMEA yang dibuat di Indonesia dengan kadar etil
alkohol lebih dari 5% (lima persen).
3. Ketentuan Pasal 6 ayat (1) dan ayat (2) diubah, sehingga
Pasal 6 berbunyi sebagai berikut:
Pasal 6
(1) Pelekatan pita cukai untuk:
a. MMEA yang berasal dari impor dilakukan di
negara asal barang kena cukai, di tempat
penimbunan
sementara,
dan/atau
di
tempat
penimbunan berikat; atau
b. MMEA yang dibuat di Indonesia dengan kadar etil
alkohol lebih dari 5% (lima persen) dilakukan di
dalam pabrik.
(2) Pita cukai yang dilekatkan pada kemasan penjualan
eceran MMEA sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
harus:
a. sesuai dengan tarif cukai dan kadar etil alkohol
pada isi kemasan;
b. merupakan hak importir barang kena cukai berupa
MMEA atau pengusaha pabrik yang bersangkutan
dan sesuai dengan peruntukannya;
c. utuh, tidak rusak, dan/atau bukan bekas pakai;
d. tidak lebih dari satu keping;
2009, No.387
e. dilekatkan pada kemasan yang tertutup dan
menutup tempat pembuka kemasan yang tersedia;
dan
f. dilekatkan tidak melebihi batas waktu pelekatan
pita cukai yang ditetapkan.
(3) Dalam hal pita cukai yang dilekatkan tidak sesuai
dengan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat
(2), cukai dianggap tidak dilunasi.
4. Judul paragraf 2 diubah, sehingga paragraf 2 berbunyi
sebagai berikut:
Paragraf 2
Penyediaan dan Pemesanan Pita Cukai MMEA
5. Ketentuan Pasal 8 ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4)
diubah, sehingga Pasal 8 berbunyi sebagai berikut:
Pasal 8
(1) Pita cukai MMEA disediakan di Kantor Pusat
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dan di kantor.
(2) Untuk penyediaan pita cukai MMEA, importir barang
kena cukai berupa, MMEA atau pengusaha pabrik
harus mengajukan permohonan penyediaan pita cukai
kepada
kepala
kantor
dengan
menggunakan
permohonan penyediaan pita cukai MMEA sesuai
dengan contoh format sebagaimana ditetapkan dalam
Lampiran I Peraturan Menteri Keuangan ini.
(3) Setelah mengajukan permohonan penyediaan pita
cukai sebagaimana dimaksud pada ayat (2), importir
barang kena cukai berupa MMEA atau pengusaha
pabrik melakukan pemesanan pita cukai dengan
menggunakan dokumen pemesanan pita cukai sesuai
dengan contoh format sebagaimana ditetapkan dalam
Lampiran II Peraturan Menteri Keuangan ini.
(4) Dalam hal importir barang kena cukai berupa MMEA
atau pengusaha pabrik tidak merealisasikan seluruh
pita
cukai
yang
telah
diajukan
permohonan
penyediaan pita cukai sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) sampai akhir tahun, dikenakan biaya
2009, No.387
pengganti penyediaan pita cukai atas pita cukai yang
tidak direalisasikan.
(5) Pembayaran biaya pengganti penyediaan pita cukai
sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilakukan
melalui bank persepsi atau pos persepsi.
6. Lampiran I dan Lampiran II diubah, sehingga menjadi
sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran I dan Lampiran
II Peraturan Menteri Keuangan ini, yang merupakan
bagian yang tidak terpisahkan, dari Peraturan Menteri
Keuangan ini.
7. Diantara Pasal 13 dan Pasal 14 disisipkan 1 (satu) pasal
yakni Pasal 13A, sehingga berbunyi sebagai berikut
Pasal 13
(1) Dengan berlakunya Peraturan Menteri Keuangan ini :
a. terhadap MMEA yang dibuat di Indonesia dengan
kadar etil alkohol lebih dari 5% (lima persen) yang
dikeluarkan, dari Pabrik sejak tanggal berlakunya
Peraturan Menteri Keuangan ini, wajib dilekati
dengan pita cukai
b. terhadap MMEA yang dibuat di Indonesia dengan
kadar etil alkohol lebih dari 5% (lima persen) yang
telah dikeluarkan dari Pabrik sebelum tanggal
berlakunya Peraturan Menteri Keuangan ini, masih
dapat berada di peredaran bebas paling lama
tanggal 31 Maret 2010.
c. terhadap MMEA yang dibuat di Indonesia dengan
kadar etil alkohol lebih dari 5% (lima persen) yang
berada di peredaran bebas dan belum dilekati pita
cukai setelah tanggal 31 Maret 2010, pejabat Bea
dan Cukai dapat melakukan penegahan dan
memusnahkannya.
(2) Untuk kelancaran pelayanan pita cukai, penyediaan
pita cukai MMEA yang dibuat di Indonesia dengan
kadar etil alcohol lebih dari 5% (lima persen) dapat
dilaksanakan sebelum tanggal berlakunya Peraturan
Menteri Keuangan ini.
2009, No.387
Pasal II
Peraturan Menteri Keuangan ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2010.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan
Menteri Keuangan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik
Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 16 Oktober 2009
MENTERI KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA,
SRI MULYANI INDRAWATI
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 16 Oktober 2009
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
ANDI MATTALATTA
2009, No.387
2009, No.387
2009, No.387
2009, No.387
2009, No.387
2009, No.387
