Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Kaur Putaran Kedua Tahun 2011
Tanggal Putusan: 26 April 2011
Tanggal Registrasi: 2011-04-06
Pemohon
Pemohon : H. Joharman Ma'in Saleh dan H. Anhar Basaruddin [Nomor Urut 11] Kuasa Hukum : Aldi Johan, S.H., M.H., dkk Termohon : KPU Kab. Kaur
Majelis Hakim
H. Moh. Mahfud MD. Maria Farida Indrati H. Anwar Usman Mardian Wibowo
Amar Putusan
Ditolak
Pertimbangan Hukum
[3.1]
Menimbang bahwa permasalahan hukum utama permohonan Pemohon
adalah keberatan terhadap Hasil Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil
136
Kepala Daerah Kabupaten Kaur, berdasarkan Berita Acara Rekapitulasi Hasil
Penghitungan Suara Pemilihan Umum Bupati dan Wakil Bupati Putaran Kedua di
Tingkat Kabupaten/Kota oleh Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Kaur (Model
DB-KWK), bertanggal 31 Maret 2011; Berita Acara Rapat Pleno Nomor 30/KPU-
KK/III/2011 tentang Rekapitulasi Hasil Perhitungan Suara Pemilihan Umum Kepala
Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Kaur Putaran Kedua Tahun 2011,
bertanggal 31 Maret 2011; dan Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten
Kaur Nomor 17 Tahun 2011 tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Penghitungan
Perolehan Suara Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten
Kaur Putaran Kedua Tahun 2011, bertanggal 3 April 2011;
[3.2]
Menimbang bahwa sebelum mempertimbangkan pokok permohonan,
Mahkamah Konstitusi (selanjutnya disebut Mahkamah) terlebih dahulu akan
mempertimbangkan hal-hal berikut:
a. kewenangan
Mahkamah
untuk
memeriksa,
mengadili,
dan
memutus
permohonan a quo;
b. kedudukan hukum (legal standing) Pemohon;
c. tenggang waktu pengajuan permohonan;
Terhadap ketiga hal tersebut di atas, Mahkamah berpendapat sebagai
berikut:
Kewenangan Mahkamah
[3.3]
Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 24C ayat (1) Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (selanjutnya disebut UUD
1945) dan Pasal 10 ayat (1) huruf d Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003
tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003
Nomor 98, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4316,
selanjutnya disebut UU MK) junctis Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437,
selanjutnya disebut UU 32/2004) sebagaimana diubah terakhir dengan Undang-
Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik
137
Indonesia Nomor 4844, selanjutnya disebut UU 12/2008), dan Pasal 29 ayat (1)
huruf d Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman,
salah satu kewenangan konstitusional Mahkamah adalah memutus perselisihan
tentang hasil pemilihan umum;
Semula, berdasarkan ketentuan Pasal 106 ayat (1) dan ayat (2) UU 32/2004,
keberatan berkenaan dengan hasil penghitungan suara yang mempengaruhi
terpilihnya Pasangan Calon diajukan ke Mahkamah Agung. Kewenangan
Mahkamah Agung tersebut, dicantumkan lagi dalam Pasal 94 Peraturan
Pemerintah Nomor 6 Tahun 2005 sebagaimana telah diubah terakhir dengan
Peraturan Pemerintah Nomor 49 Tahun 2008 tentang Perubahan Ketiga Atas
Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2005 tentang Pemilihan, Pengesahan,
Pengangkatan, dan Pemberhentian Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 92, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4865);
Dalam Pasal 1 angka 4 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang
Penyelenggara Pemilihan Umum (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2007 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4721)
ditentukan, ”Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah adalah
pemilihan umum untuk memilih Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah secara
langsung dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945”;
UU 12/2008, dalam Pasal 236C menetapkan, ”Penanganan sengketa hasil
penghitungan suara pemilihan kepala daerah oleh Mahkamah Agung dialihkan
kepada Mahkamah Konstitusi paling lama 18 (delapan belas) bulan sejak undang-
undang ini diundangkan”;
Pada tanggal 29 Oktober 2008, Ketua Mahkamah Agung dan Ketua Mahkamah
Konstitusi bersama-sama telah menandatangani Berita Acara Pengalihan
Wewenang Mengadili, sebagai pelaksanaan Pasal 236C UU 12/2008 di atas;
[3.4]
Menimbang bahwa mengenai kewenangan Mahkamah (kompetensi
absolut), Mahkamah akan memberikan penilaian pada bagian Pendapat
Mahkamah;
Kedudukan Hukum (Legal Standing) Pemohon
138
[3.5]
Menimbang bahwa berdasarkan Pasal 106 ayat (1) UU 32/2004
sebagaimana telah diubah untuk kedua kalinya dengan UU 12/2008 dan Pasal 3
ayat (1) huruf a Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 15 Tahun 2008 tentang
Pedoman Beracara Dalam Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Kepala Daerah
(selanjutnya disebut PMK 15/2008), Pemohon dalam perselisihan hasil
Pemilukada adalah Pasangan Calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah
peserta Pemilukada;
[3.6]
Menimbang bahwa berdasarkan Keputusan Komisi Pemilihan Umum
Kabupaten Kaur Nomor 23 Tahun 2010 tentang Penetapan Pelaksanaan
Pemilihan Umum Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Kaur Tahun 2010 Putaran
Kedua dan Lampiran, bertanggal 15 Juli 2010 (vide Bukti P-1), Pemohon adalah
Peserta Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten
Kaur dengan Nomor Urut 11;
[3.7]
Menimbang bahwa dengan demikian, Pemohon memiliki kedudukan
hukum (legal standing) untuk mengajukan permohonan a quo;
Tenggang Waktu Pengajuan Permohonan
[3.8]
Menimbang bahwa Pasal 106 ayat (1) UU 32/2004 dan Pasal 5 ayat (1)
PMK 15/2008 menyatakan tenggang waktu untuk mengajukan permohonan
pembatalan penetapan hasil penghitungan suara Pemilukada ke Mahkamah paling
lambat 3 (tiga) hari kerja setelah Termohon menetapkan hasil penghitungan suara
Pemilukada di daerah yang bersangkutan;
[3.9]
Menimbang bahwa hasil penghitungan suara Pemilukada Kabupaten
Kaur Tahun 2010 Putaran Kedua ditetapkan dengan Keputusan Komisi Pemilihan
Umum Kabupaten Kaur Nomor 17 Tahun 2011 tentang Penetapan Rekapitulasi
Hasil Penghitungan Perolehan Suara Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil
Kepala Daerah Kabupaten Kaur Putaran II Tahun 2011, bertanggal 3 April 2011
(vide Bukti T-10);
139
Dengan demikian, 3 (tiga) hari kerja setelah penetapan hasil penghitungan suara
oleh Termohon adalah hari Senin, 4 April 2011, Selasa, 5 April 2011, dan Rabu, 6
April 2011;
[3.10]
Menimbang bahwa permohonan Pemohon diterima di Kepaniteraan
Mahkamah pada hari Senin, 4 April 2011, berdasarkan Akta Penerimaan Berkas
Permohonan Nomor 129/PAN.MK/2011, sehingga permohonan Pemohon masih
dalam tenggang waktu pengajuan permohonan yang ditentukan oleh peraturan
perundang-undangan;
Pendapat Mahkamah
Dalam Eksepsi
[3.11]
Menimbang bahwa dalam jawaban dan tanggapannya, Termohon dan
Pihak Terkait mengajukan eksepsi terhadap permohonan Pemohon yang pada
pokoknya menyatakan:
Eksepsi Termohon:
1. Permohonan Pemohon bukan kewenangan Mahkamah Konstitusi;
2. Permohonan
Pemohon
tidak
memenuhi
kelengkapan
sebagaimana
disyaratkan dalam Pasal 6 ayat (2) huruf a PMK 15/2008, sehingga Pemohon
tidak memiliki kedudukan hukum (legal standing);
Eksepsi Pihak Terkait:
1. Permohonan
Pemohon
tidak
memenuhi
kelengkapan
sebagaimana
disyaratkan dalam Pasal 6 ayat (2) huruf b PMK 15/2008;
[3.11.1]
Terhadap eksepsi Termohon bahwa permohonan Pemohon bukan
kewenangan Mahkamah Konstitusi, Mahkamah memberikan penilaian hukum
sebagai berikut:
Bahwa
pelanggaran-pelanggaran
di
dalam
sengketa
Pemilukada
dapat
dikategorikan ke dalam beberapa pelanggaran Pemilu ataupun pelanggaran
Pemilukada seperti pelanggaran administratif dan pelanggaran pidana Pemilu,
misalnya money politic, intimidasi, dan penganiayaan. Sesuai dengan peraturan
perundang-undangan, jenis-jenis pelanggaran tersebut masing-masing ditangani
oleh instansi yang fungsi dan wewenangnya telah ditentukan oleh Undang-Undang;
140
Bahwa Mahkamah dalam menangani sengketa Pemilu ataupun Pemilukada telah
memaknai dan memberikan pandangan hukumnya melalui putusan-putusannya
dengan memberikan penafsiran yang luas demi tegaknya keadilan, yaitu Mahkamah
ti
