Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kota Sungai Penuh Tahun 2010
Tanggal Putusan: 12 Januari 2011
Tanggal Registrasi: 2010-12-23
Pemohon
Pemohon : Hasvia M.TP. dan Amrizal Jufri Kuasa Pemohon : Arteria Dahlan, S.T.,S.H., dkk Termohon : KPU Kota Sungai Penuh
Majelis Hakim
Achmad Sodiki, Harjono, H. Ahmad Fadlil Sumadi Luthfi Widagdo Eddyono
Amar Putusan
Ditolak
Pertimbangan Hukum
[3.1]
Menimbang bahwa permasalahan hukum utama permohonan Pemohon
adalah keberatan terhadap Keputusan KPU Kabupaten Kerinci Nomor 15 Tahun
2010 tentang Penetapan dan Pengumuman Rekapitulasi Hasil Penghitungan
Suara Pemilihan Umum Walikota dan Wakil Walikota Sungai Penuh Tahun 2010
Di Tingkat Kota oleh Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Kerinci bertanggal 15
Desember 2010 (sic!) juncto Berita Acara Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara
Pemilihan Umum Kepala Daerah Dan Wakil Kepala Daerah Di Tingkat
Kota/Kabupaten Oleh Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Kerinci bertanggal 15
Desember 2010;
[3.2]
Menimbang bahwa sebelum mempertimbangkan pokok permohonan,
Mahkamah Konstitusi (selanjutnya disebut Mahkamah) lebih dahulu akan
mempertimbangkan hal-hal berikut:
a. kewenangan
Mahkamah
untuk
memeriksa,
mengadili,
dan
memutus
permohonan a quo;
b. kedudukan hukum (legal standing) Pemohon;
c. tenggang waktu pengajuan permohonan;
Terhadap ketiga hal tersebut di atas, Mahkamah berpendapat sebagai
berikut:
Kewenangan Mahkamah
[3.3] Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 24C ayat (1) Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (selanjutnya disebut UUD
1945) dan Pasal 10 ayat (1) huruf d Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003
181
tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003
Nomor 98, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4316,
selanjutnya disebut UU MK) junctis Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437,
selanjutnya disebut UU 32/2004) sebagaimana diubah terakhir dengan Undang-
Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4844, selanjutnya disebut UU 12/2008), dan Pasal 29 ayat (1)
huruf d Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 157, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5076), salah satu kewenangan
konstitusional Mahkamah adalah memutus perselisihan tentang hasil pemilihan
umum;
Semula, berdasarkan ketentuan Pasal 106 ayat (1) dan ayat (2) UU
32/2004
keberatan
berkenaan
dengan
hasil
penghitungan
suara
yang
mempengaruhi terpilihnya Pasangan Calon diajukan ke Mahkamah Agung.
Kewenangan Mahkamah Agung tersebut, dicantumkan lagi dalam Pasal 94
Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2005 sebagaimana telah diubah terakhir
dengan Peraturan Pemerintah Nomor 49 Tahun 2008 tentang Perubahan Ketiga
Atas Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2005 tentang Pemilihan, Pengesahan,
Pengangkatan, dan Pemberhentian Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah;
Dalam Pasal 1 angka 4 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang
Penyelenggara Pemilihan Umum (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2007 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4721)
ditentukan, ”Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah adalah
pemilihan umum untuk memilih Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah secara
langsung dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945”;
UU 12/2008, dalam Pasal 236C menetapkan, ”Penanganan sengketa hasil
penghitungan suara pemilihan kepala daerah oleh Mahkamah Agung dialihkan
182
kepada Mahkamah Konstitusi paling lama 18 (delapan belas) bulan sejak undang-
undang ini diundangkan”;
Pada tanggal 29 Oktober 2008, Ketua Mahkamah Agung dan Ketua
Mahkamah Konstitusi bersama-sama telah menandatangani Berita Acara
Pengalihan Wewenang Mengadili, sebagai pelaksanaan Pasal 236C Undang-
Undang Nomor 12 Tahun 2008 di atas;
Wewenang Mahkamah dalam mengadili perselisihan Pemilukada pada
pokoknya adalah berkaitan dengan keberatan dari Pasangan Calon Peserta
Pemilukada mengenai hasil penghitungan suara Pemilukada yang ditetapkan oleh
KPU provinsi atau KPU kabupaten/kota (vide Peraturan Mahkamah Konstitusi
Nomor 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Beracara Dalam Perselisihan Hasil
Pemilihan Umum Kepala Daerah, selanjutnya disebut PMK 15/2008). Sementara
itu, mengenai berbagai pelanggaran dalam proses Pemilukada, baik pelanggaran
administrasi maupun pelanggaran pidana sebagaimana yang didalilkan oleh
Pemohon
merupakan
wewenang
Pengawas
Pemilukada,
Penyelenggara
Pemilukada, dan aparatur penegak hukum lainnya, yakni kepolisian, kejaksaan,
dan peradilan umum. Apabila diketemukan fakta hukum dalam proses
penyelenggaraan Pemilukada terjadi pelanggaran serius, baik pelanggaran
administrasi maupun pelanggaran pidana yang bersifat sistematis, terstruktur, dan
masif yang merusak sendi-sendi Pemilukada yang langsung, umum, bebas,
rahasia, jujur, dan adil (Luber dan Jurdil) sehingga mempengaruhi hasil
Pemilukada maka Mahkamah dapat mempertimbangkan dan menilai apakah
proses penyelenggaraan Pemilukada tersebut telah berlangsung sesuai dengan
asas Luber dan Jurdil sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 22E ayat (1) UUD
1945 dan UU 32/2004 juncto UU 12/2008 (vide Putusan Mahkamah Nomor
41/PHPU.D-VI/2008 bertanggal 2 Desember 2008). Terlepas dari apapun isi
putusan dalam perkara a quo, persoalan-persoalan pidana dan administrasi masih
dapat diadili oleh peradilan umum dan peradilan tata usaha negara menurut
kewenangannya masing-masing;
[3.4] Menimbang bahwa oleh karena permohonan Pemohon adalah sengketa
hasil penghitungan suara Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada), yakni
Pemilukada Kota Sungai Penuh berdasarkan Berita Acara Rekapitulasi Hasil
Penghitungan Suara Pemilihan Umum Kepala Daerah Dan Wakil Kepala Daerah
183
Di Tingkat Kota/Kabupaten Oleh Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Kerinci
bertanggal 15 Desember 2010 (vide Bukti P-3 = Bukti T-4). Dengan demikian,
Mahkamah berwenang untuk memeriksa, mengadili, dan memutus permohonan a
quo;
Kedudukan Hukum (Legal Standing) Pemohon
[3.5]
Menimbang bahwa berdasarkan Pasal 106 ayat (1) Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4437, selanjutnya disebut UU 32/2004) sebagaimana telah
diubah untuk kedua kalinya dengan UU 12/2008 dan Pasal 3 ayat (1) huruf a PMK
15/2008, Pemohon dalam perselisihan hasil Pemilukada adalah Pasangan Calon
Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah peserta Pemilukada;
[3.6]
Menimbang bahwa berdasarkan Keputusan Komisi Pemilihan Umum
Kabupaten Kerinci Nomor 7 Tahun 2010 tentang Penetapan Pasangan Calon
Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Menjadi Peserta Pemilu Kepala Daerah
dan Wakil Kepala Daerah Kota Sungai Penuh Tahun 2010 bertanggal 24 Oktober
2010 dan Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Kerinci Nomor 08 Tahun
2010 tentang Penetapan Nomor Urut Pasangan Calon Pemilihan Umum Kepala
Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kota Sungai Penuh Tahun 2010 bertanggal 26
Oktober 2010 (vide Bukti T-1 dan Bukti T-2), Pemohon adalah Pasangan Calon
Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kota Sungai Penuh dengan nomor urut
3;
[3.7]
Menimbang bahwa dengan demikian, Pemohon memiliki kedudukan
hukum (legal standing) untuk mengajukan permohonan a quo;
Tenggang Waktu Pengajuan Permohonan
[3.8]
Menimbang bahwa berdasarkan Pasal 106 ayat (1) UU 32/2004 juncto
Pasal 5 ayat (1) PMK 15/2008, tenggang waktu untuk mengajukan permohonan
pembatalan penetapan hasil penghitungan suara Pemilukada ke Mahkamah paling
lambat 3 (tiga) hari kerja setelah Termohon menetapkan hasil penghitungan suara
Pemilukada di daerah yang bersangkutan;
184
[3.9]
Menimbang bahwa hasil penghitungan suara Pemilukada Kota Sungai
Penuh ditetapkan oleh Termohon berdasarkan Berita Acara Rekapitulasi Hasil
Penghitungan Suara Pemilihan Umum Kepala Daerah Dan Wakil Kepala Daerah
Di Tingkat
